Cerita Bersambung : Pilihan Prita – Part 3

4

 

Aku baru saja keluar dari kantor polisi dengan salinan berkas-berkas kecelakaan itu di tanganku, dan segera kembali ke asrama untuk membacanya.

Perlu waktu hampir tiga jam aku berpikir, apakah aku harus membuka berkas-berkas ini sekarang? Atau aku akan membukanya setelah pertandingan berakhir? Atau minggu depan? Bulan depan? Atau bahkan sama sekali tidak akan membukanya dan tetap menyimpannya sebagai rahasia selama hidupku? Aku kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengenyahkan keraguan di dalam diriku. Tanpa berpikir lagi aku pun langsung membuka berkas itu dan membacanya.

Peristiwa kecelakaan itu terjadi pada bulan Desember, lima belas tahun yang lalu. Saat itu ayah dan ibuku sedang mengendarai sepeda motor pada malam hari setelah menjemput ibuku yang baru pulang bekerja. Saksi mata mengatakan bahwa sebuah sedan putih melaju sangat kencang, namun si pengemudi tidak bisa mengendalikan laju kendaraanya saat sedang menyalip kendaraan lain dan akhirnya masuk ke jalur yang berlawanan. Saat itulah mobil sedan itu seketika menghantam motor yang dikendarai ayahku. Kedua orang tuaku meninggal di tempat, sedangkan pengemudi sedan serta istri dan anak lelakinya mengalami luka yang cukup serius. Namun mereka harus kehilangan bayi perempuan mereka yang juga meninggal di tempat akibat benturan yang cukup keras.

Belakangan diketahui kalau pengemudi sedan itu sedang dalam keadaan panik karena berusaha secepat mungkin ke rumah sakit untuk membawa bayi perempuan mereka yang terkena demam tinggi. Di berkas itu juga dilaporkan, setelah kecelakaan terjadi keluarga pengemudi itu berusaha mencari anak perempuan satu-satunya yang ditinggalkan keluarga korban, namun mereka menghadapi kendala dalam menemukannya, karena aku langsung dibawa pindah oleh bibiku ke Surabaya. Selain itu si pengemudi pun harus mempertanggung jawabkan kelalaiannya dengan mendekam di tahanan selama beberapa waktu, sedangkan istrinya sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat stress berkepanjangan karena kehilangan bayi perempuannya.

Setelah membaca kronologis kecelakaan itu, aku memberanikan diri untuk membaca nama-nama keluarga si pengemudi. Di situ tertulis bahwa si pengemudi bernama Surya Wiryawan dan istrinya bernama Anin Rismayani. Sedangkan anak laki-laki mereka satu-satunya yang pada saat kecelakaan terjadi masih duduk di bangku taman kanak-kanak bernama Yoga Wiryawan. Hingga saat ini keluarga tersebut masih tinggal di sebuah kawasan di bilangan Jakarta Selatan.

Ini tidak mungkin! Aku membaca nama-nama yang tertera di kertas itu berulang-ulang. Tapi hingga kertas itu aku baca sampai ribuan kali, nama-nama yang tertera di situ tidak akan berubah. Pelaku yang menyebabkan kecelakaan itu adalah keluarga Yoga. Ya Tuhan, kenapa kamu memberikan cobaan seberat ini kepadaku? Kenapa dari seluruh manusia yang hidup di dunia ini orang yang telah menyebabkan kematian orangtuaku adalah keluarga dari orang yang paling aku sayangi?

Aku benar-benar diam terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa mual dan tubuhku lemas. Aku bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan air mata karena merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Seharusnya aku mengikuti pikiranku waktu itu, bahwa ada kalanya suatu rahasia akan lebih baik jika tetap menjadi rahasia selamanya.

***

Aku sempat memutuskan untuk tidak datang ke pertandingan partai final hari ini, karena semangat bertandingku sudah hilang sama sekali. Aku juga tidak tahu bagaimana menghadapi Yoga di arena pertandingan nanti. Perasaanku terhadapnya bercampur aduk antara rasa sayang karena dia adalah orang yang membuat hidupku merasa nyaman, rasa kasihan karena dia dan keluarganya telah kehilangan seorang anak perempuan, dan juga rasa benci, karena keluarganyalah yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal dunia.

Tapi tentu saja aku tidak mungkin melewatkan pertandingan ini. Aku tidak mungkin mengecewakan para pelatih dan teman-teman klubku. Mereka sudah menaruh harapan besar pada aku dan juga Yoga untuk memenangkan pertandingan ini. Dan akhirnya, meskipun dengan langkah berat aku pun memutuskan untuk berangkat ke arena pertandingan.

Sesampai di arena pertandingan, aku hanya berani menatap Yoga dari kejauhan. Dari wajahnya aku bisa merasakan kalau Yoga sedang menantikan kehadiranku. Tapi aku tidak mungkin menghampirinya, karena aku merasa seakan-akan ada jurang lebar yang telah memisahkan kita.

Aku pun buru-buru meninggalkan arena pertandingan sebelum Yoga menyadari kehadiranku. Aku harus pergi sekarang, karena aku pasti tidak akan sanggup menjalani pertandingan ini. Namun ketika aku baru saja melewati gerbang arena pertandingan, sesosok wanita paruh baya yang sangat aku kenal berdiri di hadapanku.

“Bibi!” seruku sambil berlari menghampirinya.

“Prita! Syukurlah, bibi kira bibi tidak akan sempat menonton pertandinganmu! Bibi tadi datang ke Jakarta dengan pesawat yang paling pagi,” ia berseru gembira. Namun ia sangat terkejut ketika tiba-tiba saja aku berhamburan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. “Ada apa, Prita?”

Aku tetap saja memeluk bibiku, orang yang telah menggantikan posisi ibuku selama bertahun-tahun. Setelah merasa tenang, barulah aku menceritakan apa yang telah aku ketahui tentang peristiwa kecelakaan itu dan hubungannya dengan keluarga Yoga.

Pada awalnya bibi sangat terkejut dengan ceritaku, tapi ia kemudian membelai rambutku. “Prita, selama hidupnya manusia akan selalu diberikan pilihan-pilihan. Sama halnya ketika kamu bermain bulutangkis, ketika shuttlecock diarahkan padamu, maka kamu harus memilih, apakah kamu akan memukul ke arah kanan atau melakukan pukulan kuat ke arah kiri demi mengalahkan lawanmu. Begitu pula dengan apa yang kamu hadapi saat ini. Apakah kamu akan memilih meneruskan hidup dengan rasa penuh dendam dan kecewa terhadap Yoga dan keluarganya, atau kamu berusaha memaafkan kesalahan masa lalu keluarga Yoga dan menumbuhkan kembali rasa cintamu terhadap Yoga.”

Mendengar ucapan bibi barusan seakan membuat beban berat yang bertumpu di pundakku menjadi lebih ringan. Aku pun mulai kembali bersemangat untuk menghadapi pertandingan final.

Ketika aku memasuki arena pertandingan Yoga langsung menghampiriku dengan wajah lega. “Kamu baik-baik saja, kan? aku sangat khawatir karena belum melihatmu dari tadi,” ujarnya.

Aku mencoba menatap wajah Yoga. Pada awalnya terasa begitu berat, tapi tatapan mata Yoga yang teduh membuatku bisa menatapnya dengan tenang. Mata teduh itu kembali mengingatkanku pada kesedihan yang terpancar di mata ibu Yoga, yang kini kusadari, mungkin saja kesedihan itu bukan hanya karena rasa kehilangan akan anak perempuannya, tapi juga perasaan bersalah berkepanjangan karena keluarganya telah menyebabkan kecelakaan yang menewaskan orangtuaku.

“Aku baik-baik saja,” ujarku membalas pertanyaan Yoga.

“Kalau begitu ayo kita berjuang untuk merebut kemenangan ini!” seru Yoga mantap.

Pertandingan final pun berlangsung dengan seru dan menegangkan. Seluruh teman-teman klub kami terus-menerus meneriakkan nama kami dengan bersemangat di sepanjang pertandingan. Dan setelah berjuang habis-habisan, kami akhirnya bisa memenangkan pertandingan. Seluruh teman-teman klub dan para pendukung kami langsung berhamburan memeluk dan menyelamati kita berdua.

Di tengah-tengah hingar bingar kemeriahan itu, Yoga tiba-tiba mengulurkan tangannya kepadaku sambil berbisik, “Lalu, apa jawabanmu atas perasaanku waktu itu?”

Aku pun kembali teringat dengan pilihan-pilihan yang dikatakan oleh bibiku tadi. Apakah aku akan menjalani hidup penuh dendam terhadap keluarga Yoga, ataukah rasa cintaku terhadap Yoga akan mengalahkan rasa dendam itu.

Aku kemudian tersenyum sambil meraih tangan Yoga dan menggenggamnya dengan erat. Aku sudah memutuskan apa pilihanku, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyesal dengan pilihanku ini.

TAMAT

PART 2                                             PART 1

Copyright © 2014 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Pilihan Prita juga tersedia dalam bentuk novel (kumpulan cerpen ‘Love Never Fails, Buku #9 perorangan’) dan dapat dipesan hanya di nulisbuku.com

Love-Never-Fails-Cover1

Advertisements

Cerita Bersambung : Pilihan Prita – Part 2

3

 

Untuk beberapa hari ke depan aku dan Yoga disibukkan dengan berbagai latihan demi menghadapi kejuaraan nasional. Dan kerja keras kita ternyata tidak sia-sia, karena kita akhirnya mampu memenangkan babak demi babak penyisihan hingga akhirnya bisa menembus partai semi final. Ini artinya selangkah lagi impianku untuk menjuarai kejuaraan nasional bersama dengan orang yang kusayangi akan benar-benar menjadi kenyataan.

Siang hari ini pertandingan semi final akan berlangsung, dan sejak pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan itu. Sebelum meninggalkan asrama, aku menyempatkan diri untuk menatap wajahku dari balik cermin, dan tersenyum bangga akan prestasiku mencapai babak semi final. Namun senyumanku mendadak hilang ketika tiba-tiba saja aku teringat dengan kedua orang tuaku. Kalau saja mereka masih hidup, pasti mereka juga akan merasakan kebanggaan yang sama denganku. Dan kalau saja mereka masih hidup, aku pasti bisa mendengar suara dukungan mereka dari kursi penonton. Tapi sayangnya, semua itu tidak akan pernah terjadi.

Aku mungkin akan terus mematung di depan cermin meratapi kesedihanku kalau saja handphoneku tidak berbunyi. Aku buru-buru meraih handphone itu dan melihat nama yang tertera di layarnya, ternyata mas Tomy yang meneleponku, dia adalah anak laki-laki bibiku yang dulu membawaku tinggal bersama di Surabaya.

“Ada apa, mas?” jawabku.

“Selamat ya Prita, kata ibu kamu berhasil masuk semi final!” suara mas Tomy terdengar bangga.

“Terima kasih mas Tomy, doakan aku berhasil ya!”

“Semoga berhasil!” seru Tomy, namun setelah itu ia terdiam sesaat. “Kalau saja ayah dan ibumu masih hidup, mereka pasti akan sangat bangga denganmu.”

Aku menghela napas panjang. Ternyata mas Tomy juga punya pemikiran yang sama denganku.

“Sudah hampir lima belas tahun sejak kecelakaan itu terjadi,” lanjut Tomy. “Apa kamu sama sekali nggak berpikiran untuk mencari tahu siapa orang yang menyebabkan kecelakaan itu?”

Aku terdiam lama. Tentu saja ada saat-saat di mana aku ingin mengetahui siapa penyebab di balik kecelakaan yang telah menewaskan kedua orang tuaku, dan siapa yang telah membuatku tumbuh dewasa tanpa kasih sayang orang tuaku. Tapi entah mengapa aku merasa terkadang ada beberapa rahasia yang akan lebih baik jika tetap menjadi rahasia selamanya.

“Aku tidak berani,” ujarku akhirnya. “Aku takut kalau aku mengetahui siapa orang yang menyebabkan kecelakaan itu, nanti akan tumbuh rasa dendamku padanya. Lagipula, bagaimana kalau orang yang telah menewaskan kedua orang tuaku itu selama ini hidup bahagia? Aku pasti akan semakin membenci orang itu.”

“Bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya?” ujar Tomy. “Bagaimana kalau orang itu hidup dengan rasa bersalah yang berkepanjangan, dan mempunyai keinginan untuk meminta maaf kepada orang yang telah menderita akibat perbuatannya itu?”

Aku kembali terdiam. Mas Tomy benar, aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.

“Maaf Prita, sebenarnya selama ini aku mencoba mencari tahu seperti apa kronologis dan siapa penyebab kecelakaan itu,” mas Tomy terdiam sesaat, dan karena aku tidak berkata apa-apa ia melanjutkan ucapannya. “Kebetulan salah satu temanku punya kenalan di kepolisian Jakarta, dan beberapa hari yang lalu temanku mengabarkan kalau mereka sudah menemukan berkas-berkas kecelakaan itu.”

Aku benar-benar terkejut dengan ucapan mas Tomy. “Jadi… mas Tomy sudah tahu siapa penyebab kecelakaan itu?” ujarku terbata-bata.

“Aku belum tahu, karena akan lebih baik kalau kamu yang mengetahui langsung kronologis kecelakaan itu. Tapi untuk saat ini sebaiknya kamu konsentrasi saja dulu dengan pertandinganmu, nanti kalau pertandingan itu sudah selesai, kamu bisa mencoba menghubungi temanku. Aku akan sms nomer handphone temanku padamu,” ujar mas Tomy sesaat sebelum menyudahi percakapan.

Aku mematikan handphone dengan lemas. Hilang sudah semua semangatku untuk bertanding siang ini.

***

Aku benar-benar kehilangan seluruh konsentrasiku selama pertandingan berlangsung. Pikiranku terus mengulang semua perkataan yang diucapkan mas Tomy. Aku terus-menerus membuat kesalahan di sepanjang pertandingan. Yoga bahkan harus berjuang mati-matian membalas serangan-serangan yang dilancarkan lawan karena beberapa kali aku tidak bereaksi ketika shuttlecock diarahkan padaku.

“Kamu tidak apa-apa, Prita?” Yoga menghampiriku dengan wajah khawatir di sela-sela pertandingan.

Aku mengangguk. “Maaf, sepertinya aku terlalu tegang menghadapi pertandingan ini.”

Yoga tersenyum, senyuman tulus yang selalu berhasil menenangkan hatiku. “Jangan khawatir, kan ada aku. Kamu tinggal bermain sebisamu, selebihnya percayakan saja padaku,” ujarnya sambil menepuk bahuku.

Perasaanku mulai sedikit tenang mendengar ucapan Yoga. Aku pun mencoba menghilangkan pikiran-pikiran akan kecelakaan itu dan mulai mengumpulkan kembali konsentrasiku. Biar bagaimanapun aku tidak boleh menyia-nyiakan pertandingan ini demi impianku dan juga impian Yoga.

***

Meskipun dengan bersusah payah, aku dan Yoga akhirnya bisa memenangkan pertandingan. Kita yang biasanya bisa memenangkan pertandingan dengan dua set langsung, kali ini harus dipaksa untuk bermain tiga set. Meskipun begitu semua orang tetap merayakan kemenangan kita. Para pelatih dan seluruh anggota klub memberikan selamat kepada kita berdua. Tapi aku tidak bisa ikut merayakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh Yoga dan teman-teman klubku, karena pikiranku selalu kembali terpusat pada perkataan mas Tomy.

Dua hari lagi aku dan Yoga akan menghadapi partai final, dan pelatih sudah mewanti-wanti kami agar tidak memikirkan hal-hal lain selain berkonsentrasi penuh pada pertandingan final nanti. Tapi dari malam hari hingga keesokan paginya, aku masih tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran akan kecelakaan yang menimpa orang tuaku. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin tahu seperti apa kronologis kecelakaan itu, tapi bibiku selalu menolak untuk menceritakannya. Selama ini aku memang berusaha sebisa mungkin untuk melupakan kejadian itu dengan tidak mengungkit-ungkitnya lagi, tapi tetap saja aku tidak bisa membendung rasa ingin tahuku terhadap peristiwa tragis itu.

Dan sepertinya hari inilah saatnya. Pada hari inilah aku harus tahu secara pasti apa yang terjadi dengan orang tuaku lima belas tahun yang lalu. Aku pun mengabaikan pesan mas Tomy yang menyuruhku untuk berkonsentrasi dulu pada pertandingan, dan segera menghubungi teman mas Tomy untuk meminta berkas-berkas tentang kecelakaan itu. Langkahku sudah mantap, aku akan mencari tahu tentang peristiwa kecelakaan itu hari ini juga.

 

  BERSAMBUNG

  PART 1                                              PART 3

Copyright © 2014 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Pilihan Prita juga tersedia dalam bentuk novel (kumpulan cerpen ‘Love Never Fails, Buku #9 perorangan’) dan dapat dipesan hanya di nulisbuku.com

Love-Never-Fails-Cover1

Cerita Bersambung : Pilihan Prita – Part 1

1

 

“Ya! Masuk!” aku berteriak penuh kemenangan ketika pukulan smash kerasku berhasil mematikan gerakan lawan. Meskipun saat ini hanyalah sesi latihan, tapi tentu saja aku harus tetap serius menjalaninya jika ingin memenangkan Kejuaran Nasional bulutangkis nanti.

Seorang pemuda bertubuh tinggi ramping menghampiriku dan mengacak-acak rambut ikalku dengan lembut. “Bagus Prita, kalau kamu bermain sebaik ini di pertandingan minggu depan, kita pasti bisa menang mudah!” ujarnya percaya diri.

Aku membalas ucapannya dengan senyuman. Pemuda ini bernama Yoga Wiryawan, dan bersamanya aku dipercaya untuk mewakili Jakarta Jaya -klub bulutangkis kami, di pertandingan ganda campuran.

Aku berkenalan dengan Yoga baru genap satu tahun yang lalu, tapi aku langsung merasa cocok dengannya. Saat itu aku baru saja pindah dari klub bulutangkis di Surabaya ke Jakarta, dan Yoga adalah orang pertama yang menyapaku. Sejak saat itu hubungan kita langsung akrab layaknya seorang sahabat, aku merasa nyaman berada di dekatnya dan sepertinya Yoga juga merasakan hal yang sama.

Aku merasa kita bisa begitu akrab karena kita memiliki banyak kesamaan. Kita memiliki usia yang sama, kita sama-sama anak tunggal di dalam keluarga, dan sejak kecil kita bercita-cita menjadi pemain bulutangkis profesional. Namun yang paling membuat kita seakan ditakdirkan untuk bersama adalah kita sama-sama pernah memiliki masa lalu yang kelam.

Kedua orang tuaku meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas hampir lima belas tahun yang lalu. Saat itu aku masih berumur lima tahun, dan masih belum mengerti apa-apa ketika tiba-tiba saja aku tidak pernah lagi melihat kedua orang tuaku karena bibiku membawaku pindah dari Jakarta ke Surabaya. Setelah beranjak remaja barulah aku mengerti kenapa bibiku membawaku pindah ke rumahnya, karena memang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta.

Masa lalu Yoga pun hampir sama denganku. Ia pernah kehilangan adik perempuan yang saat itu usianya baru beberapa bulan akibat kecelakaan yang menimpanya. Ketika kecelakaan itu terjadi Yoga juga masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Rasa kehilangan akan anggota keluarga yang kita alami itulah yang seakan membuat kita mengerti apa yang sedang kita rasakan, walaupun hanya saling bertatapan.

“Bagaimana? Kamu jadi kan datang ke rumahku?” tanya Yoga sambil sibuk membereskan perlengkapan bulutangkis seusai latihan tadi.

“Tidak apa-apa aku datang ke pesta ulang tahun ibumu?” tanyaku ragu-ragu.

“Hei, kita adalah sahabat, tentu saja kamu harus datang! Lagi pula, sudah lama aku ingin memperkenalkanmu pada keluargaku,” balas Yoga. “Kenapa? Kamu tidak mau datang?”

“Tentu saja aku mau datang!” aku cepat-cepat menganggukkan kepala. Aku bahkan sudah sejak lama mempersiapkan kado untuk ibumu. Lanjutku dalam hati.

“Kalau begitu, nanti sore kita berangkat bersama ke rumahku,” Yoga melambaikan tangan sesaat sebelum meninggalkanku.

Aku bisa merasakan wajahku memerah ketika melihat senyumannya. Aku memang tidak tahu seperti apa perasaan Yoga kepadaku, tapi aku tahu pasti seperti apa perasaanku padanya. Aku menyukainya, dan bukan hanya perasaan suka antar sesama sahabat.

***

Tanganku agak gemetar ketika menyerahkan kado berbentuk rangkaian bunga kepada ibu Yoga. Tentu saja aku merasa gugup, karena dia adalah ibu dari orang yang aku sukai, jadi aku ingin memberikan kesan pertama yang baik kepadanya.

“Selamat ulang tahun… tante Anin,” ujarku terbata-bata.

Ibu Yoga tersenyum padaku, senyuman yang begitu mirip dengan senyuman yang selalu terukir di bibir Yoga. Ternyata Yoga sangat mirip dengan ibunya, keduanya sama-sama memiliki wajah ramah, senyuman yang tulus dan mata yang teduh. Tapi… entah mengapa aku bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam dari wajah ibunya. Mungkinkah karena ibunya masih tidak bisa melupakan kepergian bayi perempuannya akibat kecelakaan dulu? Aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Yoga memang pernah bercerita kepadaku kalau ibunya begitu mendambakan seorang anak perempuan, dan peristiwa kecelakaan itu benar-benar membuatnya merasa sangat kehilangan.

Namun aku buru-buru menepis pikiran tentang kecelakaan itu, karena ada baiknya aku tidak memikirkan hal-hal menyedihkan di hari perayaan ulang tahun ibu Yoga. Apalagi aku merasa bahagia karena ternyata keluarga Yoga menyambutku dengan tangan terbuka, terlebih ayah dan ibunya yang selalu tampak ramah dan bersahabat denganku, seakan-akan aku bagian dari keluarga mereka sendiri.

Tanpa terasa waktu sudah menjelang malam ketika aku dan yoga berpamitan untuk kembali ke asrama kami.

“Sebaiknya kamu langsung pulang ke asramamu karena besok pagi-pagi sekali kita sudah harus latihan,” ujarku ketika kita sudah sampai di depan gedung asrama putri.

Namun Yoga tidak mengubris perkataanku. “Aku ingin cari udara segar, kamu mau kan temani aku jalan-jalan sebentar?” ajaknya.

Aku mengangguk setuju dan mulai berjalan mengikuti langkahnya menyusuri taman yang terletak tidak jauh dari asrama tempat para anggota klub bulutangkis kami menginap.

Malam ini ternyata begitu indah dengan banyaknya bintang yang bertebaran di langit yang cerah serta angin malam sepoi-sepoi yang menerpa lembut wajah kita di sepanjang perjalanan.

Kita berjalan di dalam sepi, seakan ingin menikmati keindahan malam ini. Aku terkejut ketika tiba-tiba saja Yoga meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Aku langsung bisa merasakan jantungku berdebar begitu kencang.

“Prita…” Yoga menatap mataku. “Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukaimu…” ujarnya dengan muka bersemu merah menahan malu.

Aku terdiam, tidak menyangka ternyata Yoga juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tentu saja aku sangat senang mendengar hal itu.

“Apa kamu bisa menerima perasaanku ini?” sambung Yoga karena aku tidak bereaksi.

Namun baru saja aku membuka mulut untuk menjawab, Yoga terlanjur memotong perkataanku. “Jangan dijawab sekarang!” ujarnya cepat. “Kamu bisa menjawabnya setelah pertandingan minggu depan, karena aku ingin jawabanmu itu menjadi hadiah bagi kemenangan kita nanti.”

Aku tersenyum geli. Sepertinya Yoga begitu percaya diri akan memenangkan pertandingan nanti, dan sepertinya dia juga sudah mengetahui dengan pasti, apa jawabanku atas pertanyaannya tadi.

 

 BERSAMBUNG

PART 2                                         PART 3

Copyright © 2014 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Pilihan Prita juga tersedia dalam bentuk novel (kumpulan cerpen ‘Love Never Fails, Buku #9 perorangan’) dan dapat dipesan hanya di nulisbuku.com

Love-Never-Fails-Cover1