Cerita Bersambung : Pilihan Prita – Part 3

4

 

Aku baru saja keluar dari kantor polisi dengan salinan berkas-berkas kecelakaan itu di tanganku, dan segera kembali ke asrama untuk membacanya.

Perlu waktu hampir tiga jam aku berpikir, apakah aku harus membuka berkas-berkas ini sekarang? Atau aku akan membukanya setelah pertandingan berakhir? Atau minggu depan? Bulan depan? Atau bahkan sama sekali tidak akan membukanya dan tetap menyimpannya sebagai rahasia selama hidupku? Aku kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengenyahkan keraguan di dalam diriku. Tanpa berpikir lagi aku pun langsung membuka berkas itu dan membacanya.

Peristiwa kecelakaan itu terjadi pada bulan Desember, lima belas tahun yang lalu. Saat itu ayah dan ibuku sedang mengendarai sepeda motor pada malam hari setelah menjemput ibuku yang baru pulang bekerja. Saksi mata mengatakan bahwa sebuah sedan putih melaju sangat kencang, namun si pengemudi tidak bisa mengendalikan laju kendaraanya saat sedang menyalip kendaraan lain dan akhirnya masuk ke jalur yang berlawanan. Saat itulah mobil sedan itu seketika menghantam motor yang dikendarai ayahku. Kedua orang tuaku meninggal di tempat, sedangkan pengemudi sedan serta istri dan anak lelakinya mengalami luka yang cukup serius. Namun mereka harus kehilangan bayi perempuan mereka yang juga meninggal di tempat akibat benturan yang cukup keras.

Belakangan diketahui kalau pengemudi sedan itu sedang dalam keadaan panik karena berusaha secepat mungkin ke rumah sakit untuk membawa bayi perempuan mereka yang terkena demam tinggi. Di berkas itu juga dilaporkan, setelah kecelakaan terjadi keluarga pengemudi itu berusaha mencari anak perempuan satu-satunya yang ditinggalkan keluarga korban, namun mereka menghadapi kendala dalam menemukannya, karena aku langsung dibawa pindah oleh bibiku ke Surabaya. Selain itu si pengemudi pun harus mempertanggung jawabkan kelalaiannya dengan mendekam di tahanan selama beberapa waktu, sedangkan istrinya sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat stress berkepanjangan karena kehilangan bayi perempuannya.

Setelah membaca kronologis kecelakaan itu, aku memberanikan diri untuk membaca nama-nama keluarga si pengemudi. Di situ tertulis bahwa si pengemudi bernama Surya Wiryawan dan istrinya bernama Anin Rismayani. Sedangkan anak laki-laki mereka satu-satunya yang pada saat kecelakaan terjadi masih duduk di bangku taman kanak-kanak bernama Yoga Wiryawan. Hingga saat ini keluarga tersebut masih tinggal di sebuah kawasan di bilangan Jakarta Selatan.

Ini tidak mungkin! Aku membaca nama-nama yang tertera di kertas itu berulang-ulang. Tapi hingga kertas itu aku baca sampai ribuan kali, nama-nama yang tertera di situ tidak akan berubah. Pelaku yang menyebabkan kecelakaan itu adalah keluarga Yoga. Ya Tuhan, kenapa kamu memberikan cobaan seberat ini kepadaku? Kenapa dari seluruh manusia yang hidup di dunia ini orang yang telah menyebabkan kematian orangtuaku adalah keluarga dari orang yang paling aku sayangi?

Aku benar-benar diam terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa mual dan tubuhku lemas. Aku bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan air mata karena merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Seharusnya aku mengikuti pikiranku waktu itu, bahwa ada kalanya suatu rahasia akan lebih baik jika tetap menjadi rahasia selamanya.

***

Aku sempat memutuskan untuk tidak datang ke pertandingan partai final hari ini, karena semangat bertandingku sudah hilang sama sekali. Aku juga tidak tahu bagaimana menghadapi Yoga di arena pertandingan nanti. Perasaanku terhadapnya bercampur aduk antara rasa sayang karena dia adalah orang yang membuat hidupku merasa nyaman, rasa kasihan karena dia dan keluarganya telah kehilangan seorang anak perempuan, dan juga rasa benci, karena keluarganyalah yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal dunia.

Tapi tentu saja aku tidak mungkin melewatkan pertandingan ini. Aku tidak mungkin mengecewakan para pelatih dan teman-teman klubku. Mereka sudah menaruh harapan besar pada aku dan juga Yoga untuk memenangkan pertandingan ini. Dan akhirnya, meskipun dengan langkah berat aku pun memutuskan untuk berangkat ke arena pertandingan.

Sesampai di arena pertandingan, aku hanya berani menatap Yoga dari kejauhan. Dari wajahnya aku bisa merasakan kalau Yoga sedang menantikan kehadiranku. Tapi aku tidak mungkin menghampirinya, karena aku merasa seakan-akan ada jurang lebar yang telah memisahkan kita.

Aku pun buru-buru meninggalkan arena pertandingan sebelum Yoga menyadari kehadiranku. Aku harus pergi sekarang, karena aku pasti tidak akan sanggup menjalani pertandingan ini. Namun ketika aku baru saja melewati gerbang arena pertandingan, sesosok wanita paruh baya yang sangat aku kenal berdiri di hadapanku.

“Bibi!” seruku sambil berlari menghampirinya.

“Prita! Syukurlah, bibi kira bibi tidak akan sempat menonton pertandinganmu! Bibi tadi datang ke Jakarta dengan pesawat yang paling pagi,” ia berseru gembira. Namun ia sangat terkejut ketika tiba-tiba saja aku berhamburan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. “Ada apa, Prita?”

Aku tetap saja memeluk bibiku, orang yang telah menggantikan posisi ibuku selama bertahun-tahun. Setelah merasa tenang, barulah aku menceritakan apa yang telah aku ketahui tentang peristiwa kecelakaan itu dan hubungannya dengan keluarga Yoga.

Pada awalnya bibi sangat terkejut dengan ceritaku, tapi ia kemudian membelai rambutku. “Prita, selama hidupnya manusia akan selalu diberikan pilihan-pilihan. Sama halnya ketika kamu bermain bulutangkis, ketika shuttlecock diarahkan padamu, maka kamu harus memilih, apakah kamu akan memukul ke arah kanan atau melakukan pukulan kuat ke arah kiri demi mengalahkan lawanmu. Begitu pula dengan apa yang kamu hadapi saat ini. Apakah kamu akan memilih meneruskan hidup dengan rasa penuh dendam dan kecewa terhadap Yoga dan keluarganya, atau kamu berusaha memaafkan kesalahan masa lalu keluarga Yoga dan menumbuhkan kembali rasa cintamu terhadap Yoga.”

Mendengar ucapan bibi barusan seakan membuat beban berat yang bertumpu di pundakku menjadi lebih ringan. Aku pun mulai kembali bersemangat untuk menghadapi pertandingan final.

Ketika aku memasuki arena pertandingan Yoga langsung menghampiriku dengan wajah lega. “Kamu baik-baik saja, kan? aku sangat khawatir karena belum melihatmu dari tadi,” ujarnya.

Aku mencoba menatap wajah Yoga. Pada awalnya terasa begitu berat, tapi tatapan mata Yoga yang teduh membuatku bisa menatapnya dengan tenang. Mata teduh itu kembali mengingatkanku pada kesedihan yang terpancar di mata ibu Yoga, yang kini kusadari, mungkin saja kesedihan itu bukan hanya karena rasa kehilangan akan anak perempuannya, tapi juga perasaan bersalah berkepanjangan karena keluarganya telah menyebabkan kecelakaan yang menewaskan orangtuaku.

“Aku baik-baik saja,” ujarku membalas pertanyaan Yoga.

“Kalau begitu ayo kita berjuang untuk merebut kemenangan ini!” seru Yoga mantap.

Pertandingan final pun berlangsung dengan seru dan menegangkan. Seluruh teman-teman klub kami terus-menerus meneriakkan nama kami dengan bersemangat di sepanjang pertandingan. Dan setelah berjuang habis-habisan, kami akhirnya bisa memenangkan pertandingan. Seluruh teman-teman klub dan para pendukung kami langsung berhamburan memeluk dan menyelamati kita berdua.

Di tengah-tengah hingar bingar kemeriahan itu, Yoga tiba-tiba mengulurkan tangannya kepadaku sambil berbisik, “Lalu, apa jawabanmu atas perasaanku waktu itu?”

Aku pun kembali teringat dengan pilihan-pilihan yang dikatakan oleh bibiku tadi. Apakah aku akan menjalani hidup penuh dendam terhadap keluarga Yoga, ataukah rasa cintaku terhadap Yoga akan mengalahkan rasa dendam itu.

Aku kemudian tersenyum sambil meraih tangan Yoga dan menggenggamnya dengan erat. Aku sudah memutuskan apa pilihanku, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyesal dengan pilihanku ini.

TAMAT

PART 2                                             PART 1

Copyright © 2014 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Pilihan Prita juga tersedia dalam bentuk novel (kumpulan cerpen ‘Love Never Fails, Buku #9 perorangan’) dan dapat dipesan hanya di nulisbuku.com

Love-Never-Fails-Cover1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s