Cerita Bersambung : Pilihan Prita – Part 2

3

 

Untuk beberapa hari ke depan aku dan Yoga disibukkan dengan berbagai latihan demi menghadapi kejuaraan nasional. Dan kerja keras kita ternyata tidak sia-sia, karena kita akhirnya mampu memenangkan babak demi babak penyisihan hingga akhirnya bisa menembus partai semi final. Ini artinya selangkah lagi impianku untuk menjuarai kejuaraan nasional bersama dengan orang yang kusayangi akan benar-benar menjadi kenyataan.

Siang hari ini pertandingan semi final akan berlangsung, dan sejak pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan itu. Sebelum meninggalkan asrama, aku menyempatkan diri untuk menatap wajahku dari balik cermin, dan tersenyum bangga akan prestasiku mencapai babak semi final. Namun senyumanku mendadak hilang ketika tiba-tiba saja aku teringat dengan kedua orang tuaku. Kalau saja mereka masih hidup, pasti mereka juga akan merasakan kebanggaan yang sama denganku. Dan kalau saja mereka masih hidup, aku pasti bisa mendengar suara dukungan mereka dari kursi penonton. Tapi sayangnya, semua itu tidak akan pernah terjadi.

Aku mungkin akan terus mematung di depan cermin meratapi kesedihanku kalau saja handphoneku tidak berbunyi. Aku buru-buru meraih handphone itu dan melihat nama yang tertera di layarnya, ternyata mas Tomy yang meneleponku, dia adalah anak laki-laki bibiku yang dulu membawaku tinggal bersama di Surabaya.

“Ada apa, mas?” jawabku.

“Selamat ya Prita, kata ibu kamu berhasil masuk semi final!” suara mas Tomy terdengar bangga.

“Terima kasih mas Tomy, doakan aku berhasil ya!”

“Semoga berhasil!” seru Tomy, namun setelah itu ia terdiam sesaat. “Kalau saja ayah dan ibumu masih hidup, mereka pasti akan sangat bangga denganmu.”

Aku menghela napas panjang. Ternyata mas Tomy juga punya pemikiran yang sama denganku.

“Sudah hampir lima belas tahun sejak kecelakaan itu terjadi,” lanjut Tomy. “Apa kamu sama sekali nggak berpikiran untuk mencari tahu siapa orang yang menyebabkan kecelakaan itu?”

Aku terdiam lama. Tentu saja ada saat-saat di mana aku ingin mengetahui siapa penyebab di balik kecelakaan yang telah menewaskan kedua orang tuaku, dan siapa yang telah membuatku tumbuh dewasa tanpa kasih sayang orang tuaku. Tapi entah mengapa aku merasa terkadang ada beberapa rahasia yang akan lebih baik jika tetap menjadi rahasia selamanya.

“Aku tidak berani,” ujarku akhirnya. “Aku takut kalau aku mengetahui siapa orang yang menyebabkan kecelakaan itu, nanti akan tumbuh rasa dendamku padanya. Lagipula, bagaimana kalau orang yang telah menewaskan kedua orang tuaku itu selama ini hidup bahagia? Aku pasti akan semakin membenci orang itu.”

“Bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya?” ujar Tomy. “Bagaimana kalau orang itu hidup dengan rasa bersalah yang berkepanjangan, dan mempunyai keinginan untuk meminta maaf kepada orang yang telah menderita akibat perbuatannya itu?”

Aku kembali terdiam. Mas Tomy benar, aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.

“Maaf Prita, sebenarnya selama ini aku mencoba mencari tahu seperti apa kronologis dan siapa penyebab kecelakaan itu,” mas Tomy terdiam sesaat, dan karena aku tidak berkata apa-apa ia melanjutkan ucapannya. “Kebetulan salah satu temanku punya kenalan di kepolisian Jakarta, dan beberapa hari yang lalu temanku mengabarkan kalau mereka sudah menemukan berkas-berkas kecelakaan itu.”

Aku benar-benar terkejut dengan ucapan mas Tomy. “Jadi… mas Tomy sudah tahu siapa penyebab kecelakaan itu?” ujarku terbata-bata.

“Aku belum tahu, karena akan lebih baik kalau kamu yang mengetahui langsung kronologis kecelakaan itu. Tapi untuk saat ini sebaiknya kamu konsentrasi saja dulu dengan pertandinganmu, nanti kalau pertandingan itu sudah selesai, kamu bisa mencoba menghubungi temanku. Aku akan sms nomer handphone temanku padamu,” ujar mas Tomy sesaat sebelum menyudahi percakapan.

Aku mematikan handphone dengan lemas. Hilang sudah semua semangatku untuk bertanding siang ini.

***

Aku benar-benar kehilangan seluruh konsentrasiku selama pertandingan berlangsung. Pikiranku terus mengulang semua perkataan yang diucapkan mas Tomy. Aku terus-menerus membuat kesalahan di sepanjang pertandingan. Yoga bahkan harus berjuang mati-matian membalas serangan-serangan yang dilancarkan lawan karena beberapa kali aku tidak bereaksi ketika shuttlecock diarahkan padaku.

“Kamu tidak apa-apa, Prita?” Yoga menghampiriku dengan wajah khawatir di sela-sela pertandingan.

Aku mengangguk. “Maaf, sepertinya aku terlalu tegang menghadapi pertandingan ini.”

Yoga tersenyum, senyuman tulus yang selalu berhasil menenangkan hatiku. “Jangan khawatir, kan ada aku. Kamu tinggal bermain sebisamu, selebihnya percayakan saja padaku,” ujarnya sambil menepuk bahuku.

Perasaanku mulai sedikit tenang mendengar ucapan Yoga. Aku pun mencoba menghilangkan pikiran-pikiran akan kecelakaan itu dan mulai mengumpulkan kembali konsentrasiku. Biar bagaimanapun aku tidak boleh menyia-nyiakan pertandingan ini demi impianku dan juga impian Yoga.

***

Meskipun dengan bersusah payah, aku dan Yoga akhirnya bisa memenangkan pertandingan. Kita yang biasanya bisa memenangkan pertandingan dengan dua set langsung, kali ini harus dipaksa untuk bermain tiga set. Meskipun begitu semua orang tetap merayakan kemenangan kita. Para pelatih dan seluruh anggota klub memberikan selamat kepada kita berdua. Tapi aku tidak bisa ikut merayakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh Yoga dan teman-teman klubku, karena pikiranku selalu kembali terpusat pada perkataan mas Tomy.

Dua hari lagi aku dan Yoga akan menghadapi partai final, dan pelatih sudah mewanti-wanti kami agar tidak memikirkan hal-hal lain selain berkonsentrasi penuh pada pertandingan final nanti. Tapi dari malam hari hingga keesokan paginya, aku masih tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran akan kecelakaan yang menimpa orang tuaku. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin tahu seperti apa kronologis kecelakaan itu, tapi bibiku selalu menolak untuk menceritakannya. Selama ini aku memang berusaha sebisa mungkin untuk melupakan kejadian itu dengan tidak mengungkit-ungkitnya lagi, tapi tetap saja aku tidak bisa membendung rasa ingin tahuku terhadap peristiwa tragis itu.

Dan sepertinya hari inilah saatnya. Pada hari inilah aku harus tahu secara pasti apa yang terjadi dengan orang tuaku lima belas tahun yang lalu. Aku pun mengabaikan pesan mas Tomy yang menyuruhku untuk berkonsentrasi dulu pada pertandingan, dan segera menghubungi teman mas Tomy untuk meminta berkas-berkas tentang kecelakaan itu. Langkahku sudah mantap, aku akan mencari tahu tentang peristiwa kecelakaan itu hari ini juga.

 

  BERSAMBUNG

  PART 1                                              PART 3

Copyright © 2014 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Pilihan Prita juga tersedia dalam bentuk novel (kumpulan cerpen ‘Love Never Fails, Buku #9 perorangan’) dan dapat dipesan hanya di nulisbuku.com

Love-Never-Fails-Cover1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s