Cerita Bersambung : Pilihan Prita – Part 1

1

 

“Ya! Masuk!” aku berteriak penuh kemenangan ketika pukulan smash kerasku berhasil mematikan gerakan lawan. Meskipun saat ini hanyalah sesi latihan, tapi tentu saja aku harus tetap serius menjalaninya jika ingin memenangkan Kejuaran Nasional bulutangkis nanti.

Seorang pemuda bertubuh tinggi ramping menghampiriku dan mengacak-acak rambut ikalku dengan lembut. “Bagus Prita, kalau kamu bermain sebaik ini di pertandingan minggu depan, kita pasti bisa menang mudah!” ujarnya percaya diri.

Aku membalas ucapannya dengan senyuman. Pemuda ini bernama Yoga Wiryawan, dan bersamanya aku dipercaya untuk mewakili Jakarta Jaya -klub bulutangkis kami, di pertandingan ganda campuran.

Aku berkenalan dengan Yoga baru genap satu tahun yang lalu, tapi aku langsung merasa cocok dengannya. Saat itu aku baru saja pindah dari klub bulutangkis di Surabaya ke Jakarta, dan Yoga adalah orang pertama yang menyapaku. Sejak saat itu hubungan kita langsung akrab layaknya seorang sahabat, aku merasa nyaman berada di dekatnya dan sepertinya Yoga juga merasakan hal yang sama.

Aku merasa kita bisa begitu akrab karena kita memiliki banyak kesamaan. Kita memiliki usia yang sama, kita sama-sama anak tunggal di dalam keluarga, dan sejak kecil kita bercita-cita menjadi pemain bulutangkis profesional. Namun yang paling membuat kita seakan ditakdirkan untuk bersama adalah kita sama-sama pernah memiliki masa lalu yang kelam.

Kedua orang tuaku meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas hampir lima belas tahun yang lalu. Saat itu aku masih berumur lima tahun, dan masih belum mengerti apa-apa ketika tiba-tiba saja aku tidak pernah lagi melihat kedua orang tuaku karena bibiku membawaku pindah dari Jakarta ke Surabaya. Setelah beranjak remaja barulah aku mengerti kenapa bibiku membawaku pindah ke rumahnya, karena memang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta.

Masa lalu Yoga pun hampir sama denganku. Ia pernah kehilangan adik perempuan yang saat itu usianya baru beberapa bulan akibat kecelakaan yang menimpanya. Ketika kecelakaan itu terjadi Yoga juga masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Rasa kehilangan akan anggota keluarga yang kita alami itulah yang seakan membuat kita mengerti apa yang sedang kita rasakan, walaupun hanya saling bertatapan.

“Bagaimana? Kamu jadi kan datang ke rumahku?” tanya Yoga sambil sibuk membereskan perlengkapan bulutangkis seusai latihan tadi.

“Tidak apa-apa aku datang ke pesta ulang tahun ibumu?” tanyaku ragu-ragu.

“Hei, kita adalah sahabat, tentu saja kamu harus datang! Lagi pula, sudah lama aku ingin memperkenalkanmu pada keluargaku,” balas Yoga. “Kenapa? Kamu tidak mau datang?”

“Tentu saja aku mau datang!” aku cepat-cepat menganggukkan kepala. Aku bahkan sudah sejak lama mempersiapkan kado untuk ibumu. Lanjutku dalam hati.

“Kalau begitu, nanti sore kita berangkat bersama ke rumahku,” Yoga melambaikan tangan sesaat sebelum meninggalkanku.

Aku bisa merasakan wajahku memerah ketika melihat senyumannya. Aku memang tidak tahu seperti apa perasaan Yoga kepadaku, tapi aku tahu pasti seperti apa perasaanku padanya. Aku menyukainya, dan bukan hanya perasaan suka antar sesama sahabat.

***

Tanganku agak gemetar ketika menyerahkan kado berbentuk rangkaian bunga kepada ibu Yoga. Tentu saja aku merasa gugup, karena dia adalah ibu dari orang yang aku sukai, jadi aku ingin memberikan kesan pertama yang baik kepadanya.

“Selamat ulang tahun… tante Anin,” ujarku terbata-bata.

Ibu Yoga tersenyum padaku, senyuman yang begitu mirip dengan senyuman yang selalu terukir di bibir Yoga. Ternyata Yoga sangat mirip dengan ibunya, keduanya sama-sama memiliki wajah ramah, senyuman yang tulus dan mata yang teduh. Tapi… entah mengapa aku bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam dari wajah ibunya. Mungkinkah karena ibunya masih tidak bisa melupakan kepergian bayi perempuannya akibat kecelakaan dulu? Aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Yoga memang pernah bercerita kepadaku kalau ibunya begitu mendambakan seorang anak perempuan, dan peristiwa kecelakaan itu benar-benar membuatnya merasa sangat kehilangan.

Namun aku buru-buru menepis pikiran tentang kecelakaan itu, karena ada baiknya aku tidak memikirkan hal-hal menyedihkan di hari perayaan ulang tahun ibu Yoga. Apalagi aku merasa bahagia karena ternyata keluarga Yoga menyambutku dengan tangan terbuka, terlebih ayah dan ibunya yang selalu tampak ramah dan bersahabat denganku, seakan-akan aku bagian dari keluarga mereka sendiri.

Tanpa terasa waktu sudah menjelang malam ketika aku dan yoga berpamitan untuk kembali ke asrama kami.

“Sebaiknya kamu langsung pulang ke asramamu karena besok pagi-pagi sekali kita sudah harus latihan,” ujarku ketika kita sudah sampai di depan gedung asrama putri.

Namun Yoga tidak mengubris perkataanku. “Aku ingin cari udara segar, kamu mau kan temani aku jalan-jalan sebentar?” ajaknya.

Aku mengangguk setuju dan mulai berjalan mengikuti langkahnya menyusuri taman yang terletak tidak jauh dari asrama tempat para anggota klub bulutangkis kami menginap.

Malam ini ternyata begitu indah dengan banyaknya bintang yang bertebaran di langit yang cerah serta angin malam sepoi-sepoi yang menerpa lembut wajah kita di sepanjang perjalanan.

Kita berjalan di dalam sepi, seakan ingin menikmati keindahan malam ini. Aku terkejut ketika tiba-tiba saja Yoga meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Aku langsung bisa merasakan jantungku berdebar begitu kencang.

“Prita…” Yoga menatap mataku. “Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukaimu…” ujarnya dengan muka bersemu merah menahan malu.

Aku terdiam, tidak menyangka ternyata Yoga juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tentu saja aku sangat senang mendengar hal itu.

“Apa kamu bisa menerima perasaanku ini?” sambung Yoga karena aku tidak bereaksi.

Namun baru saja aku membuka mulut untuk menjawab, Yoga terlanjur memotong perkataanku. “Jangan dijawab sekarang!” ujarnya cepat. “Kamu bisa menjawabnya setelah pertandingan minggu depan, karena aku ingin jawabanmu itu menjadi hadiah bagi kemenangan kita nanti.”

Aku tersenyum geli. Sepertinya Yoga begitu percaya diri akan memenangkan pertandingan nanti, dan sepertinya dia juga sudah mengetahui dengan pasti, apa jawabanku atas pertanyaannya tadi.

 

 BERSAMBUNG

PART 2                                         PART 3

Copyright © 2014 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Pilihan Prita juga tersedia dalam bentuk novel (kumpulan cerpen ‘Love Never Fails, Buku #9 perorangan’) dan dapat dipesan hanya di nulisbuku.com

Love-Never-Fails-Cover1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s