Cerita Bersambung : Finally Found You – Part 1

COVER 150dpi

“Reno, coba dengar ini!” suara Trisha memecah kesunyian.

Sore itu ruangan Klub Basket memang sudah tampak sepi, hanya tinggal Trisha sang manager klub, serta Reno yang masih sibuk merapikan bola-bola, handuk dan bekas botol-botol minuman yang digunakan para anggota Klub Basket latihan tadi siang. Meskipun sebenarnya istilah merapikan hanya berlaku untuk Reno, sementara Trisha dari tadi sibuk dengan laptopnya.

“Jika sepasang kekasih menuliskan nama dan perasaan cinta mereka pada sebuah gembok, dan mengunci gembok itu di suatu tempat lalu membuang kuncinya, maka keduanya tidak akan terpisahkan untuk selamanya,” lanjut Trisha dengan mata berbinar.

Reno menghela napas mendengar ucapan Trisha. “Oh, tidak,” gumamnya pelan.

“Kenapa? Sepasang kekasih bersatu untuk selamanya, bukannya itu yang diinginkan semua orang?” ujar Trisha tanpa mengalihkan pandangan matanya dari laptop–sibuk membaca informasi mengenai love padlocks, istilah untuk ritual gembok cinta tersebut.

Reno kembali menghela napas. Yang ia persoalkan bukanlah masalah sepasang kekasih yang akan bersatu selamanya atau tidak, tapi kenyataan bahwa gadis ini terlalu, amat, sangat, percaya kepada mitoslah yang membuatnya menghela napas beberapa kali. Sepasang kekasih menuliskan nama mereka di gembok lalu membuang kuncinya agar cinta mereka kekal selamanya? Lelucon macam apa itu?

“Dan sudah banyak orang yang melakukannya, seperti di Jepang, di Jerman, di Italia, dan juga Korea, jadi aku juga harus mencoba cinta ala gembok ini!” Trisha mengangguk mantap.

Kali ini Reno tertawa geli. “Sebaiknya kamu cari pacar dulu, baru cari gembok untuk mengekalkan cinta kalian.”

Reno memang baru setahun belakangan ini mengenal Trisha, tapi ia tahu persis seperti apa sepak terjang gadis itu dalam mencari kekasih idamannya, meskipun sayangnya belum ada satu pun usaha Trisha yang berhasil hingga saat ini.

Trisha menatap Reno dengan muram. Meskipun umur mereka hanya terpaut beberapa bulan, tapi pemuda ini selalu saja menggodanya, seakan dirinya adalah anak umur lima tahun yang masih pantas digoda.

“Aku pasti secepatnya dapat pacar!” Trisha mencibir. “Di ramalan bintang yang aku baca pagi ini tertulis kalau nggak lama lagi keadaan asmaraku akan berubah drastis!”

“Astaga! Tidak bisakah kamu sehari saja nggak baca ramalan bintang?!” Reno akhirnya kehabisan kesabaran. “Kan sudah kubilang semua itu hanyalah omong kos…”

BRAK!!!!

Belum sempat Reno menyelesaikan kalimatnya, seorang gadis tiba-tiba saja membuka pintu kuat-kuat dan melintas secepat kilat di hadapannya.

“Kamu pasti senang mendengar ini, Trisha!” tanpa mempedulikan Reno yang terbengong-bengong, Karen langsung menghampiri Trisha dengan semangat.

Reno menatap kedua gadis itu dengan wajah datar. Mereka memang sangat cocok disebut sebagai sahabat.

Keduanya sama-sama bertubuh ramping dengan mata lebar dan semangat yang seakan tidak ada habisnya. Bedanya, Trisha berambut pendek berwarna hitam legam, dengan pakaian yang terlihat kasual. Sedangkan Karen memiliki rambut panjang ikal berwarna kecoklatan ala penyanyi Korea dengan tubuh dibalut pakaian berwarna-warni terang persis seperti gumpalan permen karet. Di lehernya selalu tergantung headphone berukuran besar dengan bunyi berdentum-dentum. Sejak dulu Karen memang sangat tergila-gila dengan penampilan artis Korean POP semacam ini.

Kesamaan lainnya dari kedua gadis ini adalah mereka sama-sama terdaftar di semester enam jurusan Bahasa Korea. Kalau Karen jelas, karena ia sangat tergila-gila dengan budaya Korea makanya ia memilih jurusan ini. Tapi entahlah dengan Trisha, mungkin gadis itu memilih jurusan Bahasa Korea setelah mendapat petunjuk dari ramalan bintang yang pernah ia baca, tidak ada yang tahu pasti.

Tapi yang pasti, kenyataan bahwa kedua gadis ini memiliki kegemaran unik–yang seorang adalah penggila ramalan serta mitos, dan yang seorang lagi adalah Korean Freak–memang membuat mereka tampak benar-benar serasi. Dan saat ini sepertinya Reno sudah bisa menduga kalau apa yang akan disampaikan oleh Karen pasti bukanlah suatu hal yang biasa.

“Ada apa?” Trisha penasaran dengan antusiasme Karen.

“Coba tebak! Siapa yang akan diudang oleh Klub Astrologi untuk mempromosikan Klub mereka?”

Sesaat Trisha mengerutkan dahinya, dan tiba-tiba saja matanya melebar. “Madam Serena?” jawab Trisha yang dibalas dengan anggukan super antusias oleh Karen.

Setelah itu keduanya pun merayakannya sambil berjingkrak-jingkrakan seperti orang gila.

“Oh, tidak,” Reno mengerang, “not again.”

Bersambung

COVER

Kelanjutan kisah Trisha, Reno dan Karen dalam bentuk Novel dapat dipesan hanya di nulisbuku.com atau e-mail ke admin@nulisbuku.com. Caranya mudah! ^^

 SYNOPSIS Click Here!

Copyright © 2013 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s