Cerita Bersambung : My Perfect Partner – Part 7

COVER-150dpi

“Lo terlambat.” Victo mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja sebagai ungkapan ketidaksabarannya. Bola matanya yang hitam pekat menatap Kenia lekat-lekat.

“Cuma terlambat sepuluh menit kok,” Kenia mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana namun tidak berhasil.

“Bukannya lo harus minta maaf karena terlambat?”

“Maaf,” Kenia menatap kesal ke arah Victo dan langsung mencari tempat duduk sejauh mungkin dari pria itu.

Beberapa saat kemudian mereka hanya terdiam tanpa mengucap sepatah kata pun. Victo hanya bersandar kaku di bangkunya, sedangkan Kenia tertunduk sambil berkali-kali menggoyangkan kaki untuk menghilangkan rasa gugupnya.

Setelah sepuluh menit berlalu tanpa terjadi apa-apa, Kenia pun akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan sebelum suasana menjadi semakin kaku. “Begini Victo, gue…”

Perkataan Kenia terputus ketika Dennis muncul dengan setumpuk kertas di tangannya. “Ini laporan hasil evaluasi fan meeting lo yang dibuat sama panitia.”

Victo mengangkat kedua alisnya sambil membuka-buka laporan yang diberikan Dennis. “Menurut lo gimana acara fan meeting gue kemarin?” tanya Victo.

Dennis mengangkat bahu. “Yah lumayan berhasil, fans lo yang datang jumlahnya ratusan, semua acara juga berjalan dengan lancar.”

“JANGAN BERCANDA!” bentak Victo. “Kemarin adalah acara fan meeting gue yang paling buruk! Penontonnya terlalu berisik, sound system-nya nggak berfungsi maksimal, panggungnya kurang megah dan…” ia melirik tajam ke arah Kenia. “Kenapa bisa-bisanya ada kejadian memalukan yang disebabkan cewek aneh ini?!”

Spontan Dennis memalingkan wajahnya ke arah Kenia. “Loh, lo udah dateng, toh?” ujar Dennis setelah menyadari kehadiran Kenia.

“Halo…” Kenia berusaha tersenyum ramah.

“Halo! Oh iya, kita kemarin belum sempat kenalan.” Dennis tersenyum manis. “Gue Dennis, sahabat sekaligus manajer Victo. Nama lo siapa?” Dennis mengulurkan tangan. Sikapnya hari ini sangat ramah, berbeda sekali dengan sikap sombongnya kemarin.

“Gue Kenia.” Dengan ragu-ragu Kenia menyalam tangan Dennis.

“Nggak usah pake basa basi segala, Dennis! Cepetan lo tanya anak ini maunya apa!”

Kenia menatap Victo dengan kesal. Dasar arogan! Pria ini bahkan tadi sama sekali tidak menanyakan siapa namanya.

Dennis terkekeh seakan sudah terbiasa dengan bentakan-bentakan Victo. “Sebenernya lo mau minta bantuan apa sih ke Victo?”

Kenia pun menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. “Ceritanya agak panjang… jadi begini…”

“Langsung ke inti permasalahannya saja!” cetus Victo yang membuat Kenia rasanya ingin sekali menampar mulut pria itu.

“Gue pengen lo jadi cowok gue!” Kenia akhirnya benar-benar langsung ke pokok permasalahan, namun malah membuat Victo mengeluarkan ekspresi menyeramkan.

Takut akan kemarahan Victo kembali meledak, Kenia pun buru-buru menjelaskan dengan cepat tentang rencananya meminta bantuan Victo agar mau menjadi pasangan prom night-nya.

“Oohh… jadi intinya lo mau bikin cowok yang bernama Randy itu cemburu?” tanya Dennis setelah Kenia menyelesaikan ceritanya.

“Iya.”

Victo mendengus. Jadi ini masalah penting yang digembar-gemborkan oleh ketiga gadis itu kemarin. Benar-benar menggelikan.

Dennis mengangkat kedua alisnya. Ia pun memikirkan hal yang sama dengan Victo. Rencana yang dikatakan gadis ini benar-benar nggak penting dan hanya membuang-buang waktu. “Gimana Victo, lo mau nggak?” Meskipun begitu keputusan terakhir tetap berada di tangan Victo.

Victo terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Sebenernya gue males ngeladenin permintaan aneh kayak gini, tapi seorang Victo nggak akan pernah menarik kata-katanya sendiri.” Ia berkata pongah.

“Jadi lo tetep mau bantu dia?” tanya Dennis lagi untuk memastikan.

“Iya cerewet!!” bentak Victo sambil menghentakkan kaki.

“Waaahhh, terima kasih Victo!” Kenia tertawa riang.

“Terus, lo berani bayar berapa?” tanya Victo yang saat itu juga langsung membungkam tawa Kenia.

“Bayar? bayar apaan?” tanya Kenia bingung.

“Gue ini artis profesional, jadi mana bisa seenaknya aja lo pakai jasa gue tanpa bayaran, apalagi banyak produser film yang mau bayar mahal buat ngontrak gue di film mereka.” Victo tersenyum sinis. “Gimana? Lo mampu kan bayar gue?”

“Lo mau dibayar berapa?” Kenia berupaya menahan jengkel, meskipun sebenarnya ia kaget juga dengan pertanyaannya sendiri.

“Lo mampunya berapa?” tantang Victo.

“Lo sebutin aja angkanya, biar nanti gue putusin sendiri mampu apa enggak,” ujar Kenia tak kalah menantang.

Victo tersenyum. Cewek ini ternyata cukup punya nyali juga.

“Biasanya sekali tanda tangan kontrak, paling murah Victo dapetnya segini…” Dennis mengangkat lima jarinya.

“Lima? Maksudnya lima ratus ribu?”

“Heh, bodoh! Lo kira gue aktor murahan?!”

“Kalo begitu lima juta dong?” tanya Kenia bimbang sambil berupaya mengingat-ingat jumlah uang di tabungannya.

“Bukan, bukan lima juta.”

“Jadi berapa dong, masak lima puluh juta!” Kenia tertawa geli.

“Bener kok, lima puluh juta,” balas Dennis enteng.

“LIMA PULUH JUTAAAAA….?!!!” teriak Kenia. Dasar gila! Bagaimana mungkin ia mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi membuat Randy cemburu?!

“Gimana? Lo sanggup bayar gue?” Victo kembali tersenyum sinis.

“Tentu saja enggak!” sambar Kenia.

“Udah gue duga,” balas Victo. “Dennis, cepat buat surat kontrak yang tadi gue minta, lalu kalau sudah selesai suruh dia tanda tangan.”

Kening Kenia berkerut. “Surat kontrak? Apa maksudnya?”

“Sebagai ganti atas pembayaran jasa gue, maka mulai minggu depan lo gue kontrak jadi supir pribadi gue,” ujar Victo. “Semua syarat dan ketentuannya nanti bisa lo baca di surat kontrak.”

Kenia terbengong-bengong. Ia bahkan mulai berpikiran kalau pria ini pasti sedang bercanda. Tapi ketika kedua pria di hadapannya sama sekali tidak ada yang tertawa, Kenia baru sadar kalau ucapan Victo tadi serius.

“Kenapa diam?” tanya Dennis. “Lo bisa nyetir kan? Kemarin waktu nyamperin kalian di mobil, gue liat lo duduk di bangku kemudi, itu artinya lo yang nyetir kan?”

Supir pribadi? Kenia tidak mengubris ucapan Dennis dan malah bertanya-tanya dalam hati. Untuk apa Victo membutuhkan supir pribadi? Atau jangan-jangan… Kenia menatap Victo dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pria itu terlihat sangat gagah dengan tubuh yang tinggi atletis dan gaya yang sangat meyakinkan… tapi apakah…

“Lo nggak bisa nyetir?” Akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulut Kenia.

Victo tidak menjawab pertanyaan Kenia. Namun Sikap diam Victo malah semakin memperjelas kalau Victo memang benar-benar tidak bisa menyetir mobil.

Kenia langsung menutup bibirnya rapat-rapat sambil mencubit tangannya sendiri agar tawanya tidak meledak. Aktor terkenal yang arogan ini ternyata tidak bisa menyetir? Pria yang digandrungi ratusan penggemar ini tidak bisa menyetir mobil???

“Selama ini gue yang biasa antar jemput Victo. Tapi sekarang gue semakin sibuk dan rumah gue jauh dari rumah Victo, makanya akan lebih mudah kalau ada orang lain yang mengantar jemput Victo. Lagi pula kita sama-sama untung kan? Victo bantuin rencana lo dan lo bantuin jadi supir dia. Gimana? Lo setuju?”

Kenia menatap Dennis dengan hambar. Pantas saja sikap pria ini tiba-tiba berubah 180 derajat, sangat ramah tidak sok dan angkuh seperti kemarin, ini pasti karena sekarang dia akhirnya bisa terbebas dari menjadi supir Victo.

Sebelum menjawab Kenia melirik ke arah Victo yang sedang mengutak-atik ponselnya dengan cuek. Namun Kenia tahu kalau saat ini Victo pasti sedang berusaha menahan malu.

Kenia kemudian mengangguk setuju. Hanya menjadi supir pribadi tidak akan susah karena ia sudah bisa menyetir mobil bahkan sebelum ia berumur 17 tahun.

Tapi… sebuah pertanyaan mulai memenuhi pikiran Kenia. Apa yang membuat Victo tidak bisa menyetir mobil?

***

“BHUAHAHAHAHAHAHA!” Vira tertawa terpingkal-pingkal mendengar berita yang dibawa Kenia. “Si sombong itu nggak bisa nyetir mobil???”

“Ssstt!” Kenia menaruh telunjuknya di bibir sambil melihat ke sekeliling. “Ini rahasia! Jangan sampai tersebar!”

Saat ini mereka berada di aula sekolah yang penuh dengan ratusan siswa-siswi kelas 3 yang sedang menunggu upacara kelulusan mereka.

Beberapa dari siswa-siswi itu duduk dengan tertib menunggu acara dimulai, namun tak sedikit pula yang menghabiskan waktu dengan mengobrol seru seperti ketiga gadis ini.

“Tapi gue nggak pernah baca artikel yang bilang Victo nggak bisa nyetir,” Cindy menautkan kedua alis matanya.

“Karena memang nggak ada yang tahu tentang hal itu. Inget teman-teman, ini RAHASIA!” Kenia kembali menegaskan. “Dan perjanjian gue sama Victo ini juga rahasia, jadi jangan sampai kalian nyebarin tentang hal ini!”

“Mana coba gue liat surat kontrak lo!” Vira merebut surat kontrak dari tangan Kenia dan mulai membacanya.

‘SURAT PERJANJIAN KONTRAK ANTARA VICTO RENATO DAN KENIA’

Surat kontrak ini dibuat berdasarkan kesepakatan kerjasama antara Victo Renato dengan Kenia. Berdasarkan surat kontrak ini, Victo akan menyanggupi untuk melaksanakan permintaan Kenia apapun bentuknya, dan di lain pihak Kenia akan melaksanakan tugasnya sebagai supir pribadi Victo.

Agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar maka ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak, yaitu:

1. Kedua belah pihak tidak boleh menyebarkan tentang kerjasama ini ke orang lain.

2. Kenia tidak boleh menyebarkan biodata Victo termasuk nomer telepon, nomer ponsel, alamat rumah serta jadwal kegiatan Victo ke khalayak umum.

3. Kedua belah pihak tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing-masing.

4. Kenia tidak boleh menanyakan apapun tentang keluarga Victo dan hal-hal lainnya yang menyangkut kehidupan pribadi Victo.

5. Kenia dilarang memberikan keterangan atau melakukan wawancara dengan wartawan mengenai kehidupan Victo.

6. Jika sedang tidak dalam masa kerja, Kenia dilarang berada di tempat umum bersama Victo.

7. Kenia dilarang menegur atau berbicara dengan Victo di tempat umum kecuali Victo yang memulai percakapan.

8. Kenia harus selalu ada jika Victo membutuhkan jasa antar jemput ke tempat manapun yang akan dituju oleh Victo.

9. Salah satu pihak dilarang menyukai atau jatuh cinta dengan pihak yang lain.

10. Jika kontrak ini telah selesai maka kedua belah pihak dilarang memiliki hubungan lagi, dengan kata lain hubungan keduanya putus secara total.

Demikian surat kontrak ini dibuat. Tertanggal 25 Juli.

Vira menggelengkan kepala ketika selesai membacanya. “Surat kontrak macam apa ini?!!! Dasar nggak adil!! Masa semua peraturannya cuma menguntungkan dia aja?!”

Kenia hanya tersenyum pasrah. Sebenarnya waktu itu ia sudah melancarkan protes kepada Victo tentang isi surat kontrak ini. Tapi tentu saja Victo sudah memiliki jawabannya yang jitu untuk menjawab protesnya itu.

‘Gue adalah pihak yang dirugikan dalam perjanjian ini,’ ujar Victo kemarin pagi. ‘Lo kira gue nggak buang-buang waktu gue dengan ngurusin masalah nggak penting ini? Udah untung gue mau bantuin lo, jadi konsekuensinya lo harus menyetujui seluruh isi surat kontrak ini!’

Kenia mendengus mengingat ucapan Victo. Kalau dipikir-pikir dengan Victo mau membantu mereka saja sebenarnya sudah merupakan keajaiban, oleh karena itulah ia mengalah dan bersedia menerima isi surat kontrak itu dan bahkan sudah menandatanganinya.

“Tapi beruntung banget lo Kenia, bisa berdekatan sama Victo setiap saat! Pasti banyak fans yang mau bayar berapa saja demi bisa berada di posisi lo sekarang!” ujar Cindy dengan mata berbinar-binar. Ia bahkan membayangkan dirinyalah yang menjadi supir pribadi Victo yang super ganteng itu. Duduk berduaan saja dengan Victo di dalam mobil sambil mendengarkan lagu-lagu bernuansa slow. Wah! Romantis sekali!

Namun Kenia hanya tersenyum hambar. Menjadi supir aktor arogan yang kerjanya cuma marah-marah setiap saat? Entah bagian mana yang bisa disebut sebagai keberuntungan.

“Kapan perjanjian ini dimulai?” tanya Vira.

“Mulai minggu depan.”

Well, semoga berhasil!” Vira memberi dukungan moral.

Kenia mengangguk sebagai tanda terima kasih. Dukungan memang sangat diperlukan saat ini, mengingat ia akan menjalankan rencana yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali. Menjadi supir pribadi seorang aktor terkenal yang nantinya akan menjadi pasangan prom night-nya hanya demi mendapatkan perhatian Randy? benar-benar sebuah rencana gila.

Mendadak ruangan aula menjadi sepi dan membuat Kenia spontan melihat ke atas panggung. Pandangannya kemudian terpaku pada Randy yang saat ini sedang berdiri di podium di tengah-tengah panggung.

Sebagai lulusan terbaik, Randy memang ditugaskan untuk membaca pidato kelulusan sebagai wakil dari seluruh siswa kelas 3 di sekolah mereka.

Tatapan penuh percaya diri Randy, ditambah dengan suara tegasnya dalam membacakan pidato namun dengan ekspresi bersahabat, membuat Kenia merubah anggapannya barusan.

Tidak. Ia tidak sedang melakukan rencana gila. Rencana ini sangat wajar mengingat semua ini ia lakukan demi mendapatkan perhatian dari orang yang sedang berdiri tegak di hadapannya.

 Bersambung

COVER-My Perfect Partner

Kelanjutan kisah Kenia, Victo dan Randy dalam bentuk Novel dapat dipesan hanya di nulisbuku.com atau e-mail ke admin@nulisbuku.com. Caranya mudah! ^^

SYNOPSIS Click Here!

Copyright © 2013 by Addyana/chasingtheturtle.

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak atas karya cipta sebagai buah intelektual, maka tidak diperkenankan bagi siapapun untuk meng-copy atau menyebarluaskan cerita/tulisan ini di media lainnya baik dalam bentuk cetak maupun digital tanpa seijin penulis. Terima kasih^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s