Semua Bertambah Dewasa Termasuk Kamu, PETER PAN!

Wendy tidak akan pernah melupakan peristiwa ketika Ia pertama kali bertemu dengan Peter Pan di kamarnya duapuluh tahun yang lalu.

Ya, sudah dua puluh tahun berlalu sejak seorang anak laki-laki dengan baju hijau dan topi berhias bulu  tiba-tiba saja masuk menerobos melalui jendela kamarnya untuk mengejar bayang-bayangnya sendiri.

Sekarang Wendy sudah beranjak dewasa. Ia sudah berumur 32 tahun, dan sudah memiliki keluarganya sendiri, seorang suami yang penyayang dan dua orang anak laki-laki yang menggemaskan.

Meskipun waktu telah berlalu bertahun-tahun dan begitu banyak peristiwa telah terjadi dalam hidupnya, namun setiap tahun Wendy selalu menyempatkan diri untuk mengenang peristiwa itu dengan mengunjungi rumah orang tuanya tempat Ia bertemu dengan Peter Pan. Dan hari ini Iapun melakukan hal yang sama.  

Wendy membuka jendela kamar lebar-lebar sambil tersenyum. Ada sedikit harapan dalam dirinya untuk bertemu kembali dengan Peter Pan meskipun hanya untuk saling menyapa. Ia begitu merindukan Peter Pan dan para kawanannya, The Lost Boys.

Dan yang terpenting Ia juga sangat merindukan petualangan-petualangan hebatnya yang dulu Ia lakukan dengan Peter Pan di pulau kecil bernama Neverland. Namun Ia sadar, petualangan itu tidak akan pernah Ia alami lagi. Karena Ia tidak akan pernah bertemu dengan Peter Pan untuk selamanya.

Setelah beberapa lama berdiri di depan jendela, entah mengapa tiba-tiba matanya terasa berat. Ia mengantuk. Apakah mungkin ini karena hembusan angin sepoi-sepoi yang dari tadi tak henti-henti menyapu wajahnya? Entahlah. Wendy pun kemudian memutuskan untuk merebahkan diri di tempat tidur untuk sejenak memejamkan matanya.

Namun baru dua menit Ia terlelap, Wendy merasa ada suara-suara yang menganggunya.

Tok. Tok. Tok. Kemudian senyap. Tok.Tok.Tok. Bunyi itu terdengar kembali.

Wendy membuka matanya. Ia kemudian mencari arah suara itu yang ternyata terdengar dari arah jendela kamarnya. Jendela itu bergoyang-goyang karena hembusan angin yang mulai membesar.

Iapun kemudian menghampiri jendela kamar untuk menutupnya. Namun ketika hendak menutup jendela, begitu terkejutnya Ia ketika mendapati sesosok laki-laki sedang melayang di depan jendela kamarnya.

Lelaki itu menggunakan baju berwarna hijau lengkap dengan topi berhiaskan bulu. Ia sedang tersenyum lebar seakan ingin memamerkan sederetan giginya yang putih. Matanya berwarna biru terang dan rambut pendeknya berwarna merah menyala.

Sesosok mahluk mungil terlihat sedang duduk santai di bahu lelaki itu.

“Peter Pan!” Wendy memekik kuat-kuat.

“Apa kabar, Wendy Darling? Kamu sama sekali tidak berubah.” Masih dengan gayanya yang cuek Peter Pan menerobos masuk ke kamar Wendy.

“Kamu juga tidak berubah…” Namun Wendy terlihat ragu dengan perkataanya. Sosok Di depannya ini memang masih bermata biru dan berambut merah, namun kali ini Ia berwujud seorang pria dewasa, bukan lagi seorang anak laki-laki yang dulu Ia temui dua puluh tahun lalu.

“Aku kira kamu tidak akan tumbuh dewasa, Peter Pan.” Wendy tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Memang tidak.” Ujar Peter Pan sambil berputar mengelilingi Wendy, memperhatikan dengan seksama segala perubahan yang terjadi di tubuh Wendy dewasa.  “Aku masih anak laki-laki yang kamu kenal seperti dulu.”

“Kamu sudah bukan anak laki-laki lagi Peter Pan. Apa kamu tidak punya cermin di rumahmu?!” Wendy mengingatkan. Tinkerbell si peri kecil yang masih bertengger di bahu Peter Pan mengangguk kuat-kuat seakan setuju dengan perkataan Wendy.

Peter Pan hanya mengangkat bahunya dengan acuh. “Aku tidak akan menjadi dewasa. Kamu tahu itu.”

“Apa maksudmu tidak akan beranjak dewasa? Lihat saja dirimu, kamu bukan anak-anak lagi! Kamu seorang pria dewasa, dan pria dewasa tidak sembarangan masuk ke kamar wanita … HEI!”

Wendy berteriak ketika tanpa berbasa-basi Peter Pan tiba-tiba saja menarik tangan Wendy dan sedetik kemudian mereka sudah melayang di angkasa.

“Aku datang jauh-jauh bukan untuk kamu omeli.” Peter Pan tersenyum nakal. “Aku ke sini untuk mengajakmu kembali ke Neverland. Semua merindukanmu, Wendy.”  

Wendy hanya bisa menutup mata dan berdoa atas keselematannya selama Peter Pan membawanya terbang menyusuri awan. Ternyata terbang di saat dewasa seperti sekarang ini sama sekali tidak semenyenangkan ketika Ia masih gadis kecil dulu.

“Kita sudah sampai!” Peter Pan mendaratkan Wendy di tanah. Wendy pun membuka mata dan mendapati Neverland ternyata masih sama seperti yang dulu, tetap mempesona dengan panorama alamnya yang indah, namun juga tampak berbahaya karena berbagai macam binatang liar berkeliaran di sana.

Peter Pan tidak terlalu lama membiarkan Wendy terpaku dengan keindahan Neverland dan langsung mengajak wanita itu ke rumahnya.

“Selamat Datang kembali, Wendy Darling!!!” Wendy langsung disambut secara antusias oleh para anggota The Lost Boys. “Kami semua merindukanmu!!”

Wendy menatap semua anggota The Lost Boys satu persatu, ada Tootles, Nibs, Slightly, Curly dan tak ketinggalan The Twins.

Mereka semua juga sudah berubah. Masing-masing sudah menjadi pria dewasa, namun masih memperlihatkan ekspresi anak-anak dengan senyuman nakal mereka.

Rumah pohon mereka sekarang jadi tampak amat sempit dengan banyaknya orang dewasa yang berdiri berdempetan di dalamnya.

“Aku juga merindukan kalian…Hei! Berhenti!” Spontan Wendy terlonjak ketika para anggota The Lost Boys hendak memeluknya.

Dulu, ketika masih anak-anak mereka memang terbiasa saling berpelukan. Tapi sekarang mereka sudah dewasa, dan tentu saja Wendy merasa risih dipeluk beramai-ramai oleh para pria dewasa ini.

“Lihat kan? Tidak ada diantara kita yang berubah.” Peter Pan kembali tersenyum lebar. “Kita masih seperti yang dulu.”

“Tapi kalian sekarang sudah dewasa, tentu saja kalian berubah” Ujar Wendy pelan. Matanya kemudian mengamati kelakuan para anggota The Lost Boys yang memang masih tampak seperti anak-anak pada umumnya.

Saat ini Nibs sedang mengejar Tootles yang menjahilinya, sedangkan Slightly, Curly dan The Twins tampak sedang berkelahi memperebutkan makanan persis seperti anak-anak.

Wendy menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para pria yang seharusnya berkelakuan seperti orang dewasa itu. Seharusnya mereka tidak lagi saling menjahili dan tentu saja harus saling mengalah dan berbagi, apalagi dalam hal makanan!

“Apakah kamu tidak pernah mengajarkan kepada mereka bagaimana seharusnya orang dewasa bertindak Peter Pan?” Wendy kembali mengomel sambil berkacak pinggang. “Lihat kelakuan mereka!”

Tingker Bell mengangguk setuju dengan ucapan Wendy. Selama ini si peri kecil ternyata juga sudah berusaha membuat Peter Pan dan kawan-kawannya bersikap seperti orang dewasa, tetapi tidak pernah berhasil.

“Untuk apa repot-repot mengajari mereka?” Peter Pan ikut berkacak pinggang. “Kita semua akan terus menjadi anak-anak…Untuk selamanya!” Bentak Peter Pan.

“Kamu sudah dewasa Peter Pan! Ulang Wendy untuk yang keseratus kalinya. “Jangan keras kepala seperti anak kecil!”

“Aku memang masih anak-anak!” Bentak Peter Pan juga untuk yang keseratus kalinya. “Memang apa yang membuatmu berpikiran kalau aku sudah dewasa?”

Wendy melotot mendengar ucapan Peter Pan. Iapun kemudian sibuk mencari cermin, agak Peter Pan bisa bercermin dan  melihat seperti apa wajah dan wujud pria dewasa itu sekarang.

Namun belum sempat Wendy menemukan cermin tiba-tiba saja terdengar suara letusan yang dahsyat dari luar rumah pohon itu.

Peter Pan, Wendy, serta para anggota The Lost Boys  berhamburan keluar rumah. Dan Wendy sangat terkejut ketika melihat sosok Kapten Hook yang saat ini sudah tua renta, dengan gigi ompong dan rambut ubanannya sedang berada di atas kapalnya sambil mengarahkan meriam ke rumah Peter Pan.

“HA…HA…HA! Menyerahlah Peter Pan! Kali ini aku pasti akan berhasil mengusirmu dari pulau ini!!!!” Suara tawa Kapten Hook membahana ke segala penjuru Neverland.

“ASTAGA!” Wendy memekik kuat-kuat hingga membungkam tawa Kapten Hook. “Sampai sekarangpun kalian masih terus berkelahi??!! Setelah puluhan tahun berlalu kalian masih saja tidak mau saling mengalah?!”

“Siapa dia?” Kapten Hook bertanya bingung pada Peter Pan.

“Wendy Darling.” Ujar Peter Pan santai. “Kamu sudah bertemu dengannya dulu.”

“Oh ya! Aku ingat! Kamu gadis kecil yang bekerja sama dengan anak kurang ajar ini untuk melawan aku! Apakah kamu kembali kemari untuk berkelahi lagi denganku?”

“Aku? Berkelahi denganmu?!” Pekik Wendy. “Oke, cukup sudah!” Wendy akhirnya kehabisan kesabaran. “Kalian semua, ayo kumpul di sini!” Perintah Wendy.

“Untuk apa kami mengikuti perintahmu, Wen…” Namun ucapan Peter Pan terhenti ketika melihat Wendy membelalakkan mata ke arahnya. “Ayo teman-teman kita berkumpul, kamu juga Kapten Hook!”

“Aku juga?” Kapten Hook menunjuk hidungnya sendiri. Dan seketika langsung ikut berkumpul ketika Wendy juga membelalakkan mata ke arahnya.

“Dengarkan aku!” Ujar Wendy ketika semua sudah berkumpul di depannya. “Kita semua sudah beranjak dewasa, sudah bukan anak-anak lagi. Jadi mulai sekarang bersikaplah seperti orang dewasa!”

“Bersikap seperti orang dewasa?” Tanya Nibs bingung.

“Ya benar! Kalian mulai sekarang tidak boleh lagi saling menjahili, tidak boleh saling rebutan makanan, tidak boleh keras kepala, apalagi sampai terus menyimpan dendam dan selalu saja berkelahi seperti kalian berdua!” Wendy menunjuk ke arah Peter Pan dan Kapten Hook.

“Lalu apa yang harus kami lakukan, Wendy?” Ujar mereka serempak.

“Mulailah belajar untuk saling menghargai, saling berbagi dan saling mengalah, dengan begitu kalian akan benar-benar menjadi pria dewasa, sesuai dengan wujud kalian saat ini.”

“Baiklah Wendy, kami akan mencobanya.” Ujar para anggota The Lost Boys dan Kapten Hook.

Wendy mengangguk senang mendengar perkataan mereka. Namun keningnya berkerut ketika menyadari kalau Peter Pan tidak bereaksi apa-apa.

“Bagaimana denganmu, Peter Pan?”

Namun bukannya menjawab, Peter Pan malah tertawa lebar. Dan tiba-tiba saja Ia menarik tangan Wendy dan kembali membawanya terbang ke angkasa.

“Bagaimana kalau aku tidak mau, Wendy? Bagaimana kalau aku masih tetap ingin bersikap seperti anak-anak, meskipun aku sudah dewasa?” Peter Pan terbang dengan kekuatan penuh mengelilingi langit Neverland.

“Bukankah di dunia ini bukan aku saja yang bersikap seperti anak-anak? Bukankah masih banyak orang dewasa yang selalu saja mau menang sendiri dan tidak mau mengalah sehingga terkadang banyak kekacauan yang terjadi di dunia ini?” Ujar Peter Pan sambil membawa Wendy melewati Jolly Roger, kapal laut besar milik Kapten Hook dan membuat para bajak laut di dalamnya melongo.

“Kamu harus mau berubah Peter Pan, kamu harus berbeda dengan orang-orang dewasa seperti yang kamu katakan barusan. Kamu harus berusaha menjadi orang dewasa yang nantinya akan memberikan kedamaian kepada keluargamu, seperti apa yang sedang aku lakukan dengan keluargaku saat ini.” Ujar Wendy sambil memperhatikan para putri duyung yang sedang berjemur di tepi danau.

“Keluarga?” Ujar Peter Pan akhirnya.

“Ya, keluarga!” Ujar Wendy setengah berteriak. “Suatu saat nanti kamu pasti akan berkeluarga. Maka  kalaupun kamu memang tidak mau berubah demi dirimu, setidaknya berubahlah menjadi dewasa demi keluarga dan orang-orang terdekatmu, dengan begitu kamu akan bisa merasakan betapa pentingnya bersikap dewasa.”

“Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa?” Peter Pan semakin memperkencang laju terbangnya, dan membuat Wendy mempererat pegangannya di bahu Peter Pan.

“Yang penting kamu mau mencobanya!” Jantung Wendy berdebar ketika Peter Pan membawanya terbang dengan kencang menembus angin. “Karena setiap orang di dunia ini pasti bisa tumbuh dewasa, termasuk juga kamu Peter Paaannnnn!!!!

Wendy berteriak sekuat mungkin ketika Peter Pan melaju semakin kencang dan membuat keduanya menabrak tebing bebatuan dengan keras.

***

Wendy membuka kedua matanya. Ia menyadari saat ini sedang terbaring di tempat tidur. Sayup-sayup terdengar suara dari arah jendela kamarnya.

Tok…Tok…Tok…

Ternyata angin sedang bertiup cukup kencang sehingga membuat jendela kamarnya bergoyang-goyang membentur dinding.

Wendy buru-buru menutup jendela kamarnya. Dan betapa terkejutnya Ia ketika mendapati seorang pria dewasa dengan baju hijau dan topi berhiaskan bulu sedang melayang di depannya. Pria itu tersenyum. Namun kali ini bukan senyuman nakal yang diperlihatkan olehnya. Melainkan senyum berwibawa layaknya seorang pria dewasa pada umumnya.

Wendypun membalas senyuman pria itu. Ia tidak tahu apakah petualangan yang Ia rasakan barusan adalah mimpi atau memang benar-benar terjadi. Tapi ia tahu Peter Pan yang Ia kenal pastilah sekarang sudah berubah menjadi sosok dewasa. Karena Wendy yakin, semua orang pasti akan bertambah dewasa, termasuk Peter Pan.

292486-neverland

February, 20th 2011
Written by: chasingtheturtle

This is my first story for Nulisbuku charity project called Reconstruction of Fairytale (*^^*)

Pictures Credit: monografias, offclouds

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s