Inspirasiku Datang di Saat Hujan

59ba5df8f703fd81300d63fe8250c452

Aku tersenyum di depan jendela kamarku sambil menatap langit yang lambat laun berubah menjadi gelap tanda hujan akan turun ke bumi.

Ya, akhir-akhir ini aku selalu menantikan datangnya hujan, karena entah mengapa inspirasiku dalam menulis lirik lagu selalu saja muncul di saat hujan.

Sudah begitu banyak lirik lagu yang berhasil aku ciptakan selama hujan mengguyur bumi, entah itu lagu tentang kasih sayang, lagu tentang kesabaran, lagu tentang persahabatan, dan begitu banyak lirik-lirik lagu lainnya yang kutulis dengan kalimat-kalimat indah yang kuharap dapat menyejukkan telinga orang-orang yang mendengarkannya.

Gitar, secarik kertas dan pensil kini sudah bersiap sedia di hadapanku. Dan sekarang aku tinggal menunggu inspirasiku muncul dengan sendirinya bersamaan dengan hujan yang saat ini sudah mulai deras membasahi bumi.

Aku terus menanti datangnya inspirasiku sambil menatap keluar melalui jendela kamar yang memang berhadapan langsung dengan jalan raya. Jalanan itu tidak terlalu besar namun tampak ramai dengan orang yang lalu lalang di sekitarnya.

Oh, gadis itu datang lagi.

Senyumanku semakin lebar ketika melihat seorang gadis manis dengan rambut panjang sedang berdiri di halte kecil yang terletak di seberang rumahku.

Aku tidak mengenal siapa gadis itu. Tapi aku tahu kalau ia pasti akan muncul di saat hujan seperti sekarang ini. Dan yang ada di tangannya selalu benda yang sama. Payung berwarna merah, yang khusus ia bawa untuk menjemput ibunya sehabis pulang bekerja.

Ya, setiap sore di waktu hujan, gadis berpayung merah itu dengan setia menunggu ibunya turun dari kendaraan umum dan setelah itu mereka akan pulang ke rumah mereka.

Begitulah yang gadis itu lakukan setiap hari di musim hujan, begitu pulalah yang ia lakukan saat ini.

Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke tempat lain untuk mencari inspirasiku dalam membuat lirik lagu. Tapi lagi-lagi pandanganku selalu saja kembali terarah ke gadis itu.

Seperti biasanya wajah gadis itu tampak tersenyum, seakan tugas untuk menjemput ibunya adalah tugas yang paling ia sukai di dunia ini. Tak sedikit pun raut wajah kesal terpancar di wajahnya meskipun terkadang ibunya terlambat datang dan ia harus menunggu bermenit-menit lamanya di halte itu.

Ia juga tidak pernah sungkan untuk membalas sapaan orang-orang tak dikenal yang sama-sama sedang berteduh di halte itu, sehingga membuatku semakin bisa merasakan kebaikan hatinya.

Saat ini pun ia tampak sedang berbincang-bincang dengan seorang nenek tua yang terlihat kebingungan. Dan langsung saja aku tahu apa yang membuat nenek itu bingung.

Nenek tua itu tidak membawa payung, dan gadis manis itu dengan sukarela memberikan payung merahnya kepada sang nenek yang akhirnya bisa pulang dengan wajah lega.

Aku terkesima dengan perbuatan gadis itu. Saat ini hujan sudah turun semakin lebat, dan sepertinya akan berlangsung cukup lama. Lalu bagaimana dengan gadis itu, dan juga ibunya nanti akan pulang ke rumah tanpa payung merah mereka?

Melihat kejadian barusan tiba-tiba saja aku mendapat inspirasi untuk lirik lagu baruku. Keihlasan. Ya, aku akan membuat lagu tentang keikhlasan. Keikhlasan yang diperlihatkan oleh gadis itu yang dengan sukarela mengorbankan kepentingannya demi seorang nenek tua yang sama sekali tidak ia kenal.

Namun baru saja aku hendak menulis lirik pertama di selembar kertas, tiba-tiba saja pikiranku seakan ditarik kembali ke beberapa hari yang lalu.

Waktu itu hari juga sedang diguyur hujan. Dan saat itu aku juga sedang memperhatikan gadis berpayung merah itu berdiri di halte dengan wajah sabar sambil menunggu ibunya. Dan saat itu jugalah aku menemukan inspirasi untuk menulis lirik laguku. Lagu itu bertema tentang kesabaran.

Beberapa hari sebelumnya, juga di saat hujan, aku melihat gadis itu sedang menunggu ibunya sambil sesekali bercengkrama dengan orang-orang di sekitarnya. Dan saat itu pula aku menemukan inspirasi untuk menulis lagu baruku yang bertema tentang persahabatan.

Dan minggu lalu, ketika hari diguyur hujan lebat, aku melihat gadis itu tanpa lelah sedang menunggu ibunya yang terlambat datang berjam-jam lamanya. Dan saat itu jugalah aku menemukan inspirasi laguku yang bertemakan tentang kasih sayang.

Sekarang aku sadar. Bukan hujanlah yang selama ini membuatku menemukan inspirasi dalam menulis lirik-lirik lagu ciptaanku. Tapi karena gadis berpayung merah itu.

Karena melihat kebaikan hati, kepatuhan dan keramahan gadis itulah berbagai kalimat indah bermunculan dengan lancar di pikiranku yang akhirnya menghasil lirik-lirik lagu yang membuat sejuk telinga orang-orang yang mendengarkannya.

Dan akhirnya aku pun mengerti, kenapa inspirasiku untuk menulis lirik lagu tidak datang jika tidak ada hujan. Kalau hujan tidak turun, gadis itu tidak akan muncul membawakan payung untuk ibunya. Dan ketika aku tidak melihat kehadiran gadis itu maka aku pun tidak mendapatkan inspirasi untuk menulis lagu.

Tanpa berpikir dua kali aku kemudian beranjak dari dudukku. Gitar, secarik kertas dan pensil aku tinggalkan begitu saja di depan jendela kamarku.

Aku lalu meraih payung dan bergegas keluar rumah untuk menghampiri halte di depan rumahku.

Gadis itu masih di sana. Tetap setia menunggu kehadiran ibunya. Dari jauh aku bisa melihat ada sedikit kebimbangan di wajahnya. Tentu saja ia bimbang, karena payung merah yang biasanya menjadi pelindungnya dan ibunya dari guyuran hujan, kini tidak berada di tangannya.

Sesampai di halte, aku langsung menghampirinya. Dilihat dari sedekat ini paras gadis itu tenyata jauh lebih mempesona. Matanya teduh, dan senyuman ramah selalu terpancar di wajahnya yang juga terlihat ramah.

“Namaku Bimo,” ujarku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambut hangat oleh gadis itu. “Aku tinggal di seberang halte,” tambahku sambil menunjuk ke jendela rumahku, tempat aku biasa memperhatikan tindak tanduk gadis yang sekarang berada di hadapanku ini.

“Aku Vira,” suara lembutnya menghiasi telingaku. Jabatan tangannya yang terasa erat seakan menyatakan kalau perkenalan ini tidaklah bersifat sementara.

“Pakai ini,” aku menyodorkan payungku. “Kamu dan ibumu pasti akan memerlukan payung ini untuk pulang ke rumah.”

Senyuman di bibir gadis itu semakih merekah, dan ada kelegaan yang terpancar di wajahnya. “Terima kasih,” ujarnya sambil menggapai payung itu dari tanganku. “Besok pasti aku kembalikan.”

Aku mengangguk mendengar ucapan gadis itu, lalu kembali ke rumah setelah berpamitan padanya.

Saat ini aku sudah kembali duduk di depan jendela kamarku. Gitar, secarik kertas dan pensil sudah kembali berada di hadapanku, karena aku sudah siap untuk menuliskan lirik untuk lagu baruku, lagu tentang keikhlasan.

Namun sebelum rangkaian kata-kata membanjiri pikiranku, aku menyempatkan diri untuk membuka jendela kamar dan melambai ke arah gadis itu. Dan dengan senyuman ceria ia pun membalas lambaian tanganku.

Sekarang aku tidak perlu lagi menunggu datangnya hujan untuk mendapatkan inspirasi dalam menulis lirik-lirik lagu. Karena sumber inspirasiku saat ini sedang tersenyum cerah padaku.

March, 19th 2011
Written by: chasingtheturtle

Another story for Nulisbuku charity project called Kisah Hujan (*^^*)

Picture Credit: KJ Carr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s