My Dear Senior^^

CR98_001_0005_02EC

Benar-benar tiga hari pertama yang membosankan di SMU baruku ini. Maklumlah tahun ajaran baru, jadi belum ada yang kukenal, apalagi hanya aku satu-satunya yang masuk SMU ini dari SMPku dulu. Yah, apa boleh buat, kerjaku setiap jam istirahat hanya berdiri saja di balkon depan kelas. untungnya kelasku terletak di lantai dua, jadi setidaknya aku bisa melihat-lihat pemandangan dari balkon, meskipun pemandangan yang ada hanyalah para murid yang lalu lalang atau anak-anak cowok yang bermain bola di lapangan. Huh, benar-benar membosankan!

“Viny!!” Tiba-tiba ada suara yang sangat kukenal memanggilku. Dialah Wanda, kakakku yang memang satu sekolah denganku, sekaligus satu-satunya orang yang kukenal di sekolah ini.

“Hei, ngapain kamu sendirian di sini? Bengong aja!!! Gaul dong!!” Ejeknya.

“Huh!” Aku hanya mendengus tanpa memperdulikan kakakku.

“Gimana mau dapet temen kalo muka kamu cemberut begitu?”

“Biarin.” Balasku pendek.

“Eh, gimana? Udah dapet gebetan baru belum?”

Loh kok malah urusan cowok sih yang ditanya duluan? tanya pelajaran kek, guru kek, atau apa kek yang berhubungan dengan sekolah?!

“Enggak ah, masih kecil.” Aku menjawab dengan acuh.

“Eeehhhh ni anak, dari dulu kecil melulu, kapan gedenya?! Kalo gini terus gimana bisa dapet pacar!” Ledeknya.

Iya, ya…Waktu SMP dulu sudah banyak teman-temanku yang mulai taksir-taksiran, malah sudah ada yang berani pacaran, lain denganku yang selalu merasa terlalu kecil untuk naksir cowok, apalagi pacaran.

“Kenapa? belum ketemu yang ganteng ya?” Kakakku membuyarkan lamunanku.

“Belum kali.” Balasku.

“Sini, aku ajak ngeliat cowok ganteng.” Ujarnya sambil menarik tanganku.

“Aduhhh, mau ke mana sih kak?”

“Udah ikut aja cerewet!” Akupun terpaksa ikut dengannya.

“Liat tuh!” Ujar kakakku sambil menunjuk seorang cowok yang sedang bermain bola di lapangan. “Itu baru yang namanya cowok cakep.” Lanjutnya.

Sampai bengong aku melihatnya, cowok itu memang benar-benar keren. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih, matanya yang tajam ditambah dengan rambut pendeknya yang agak berantakan membuat cowok itu semakin menarik.

“Namanya Tommy, dia adek kelasku, berarti kakak kelas kamu, gimana, cakep nggak?” Tanya kakakku yang hanya aku jawab dengan anggukan karena masih terbengong-bengong melihat cowok itu.”

“Tapi kayaknya percuma kalo kamu naksir sama dia.”

“Kenapa?” Tanyaku, “Banyak yang naksir?”

“Bukan banyak lagi, nggak keitung cewek-cewek yang naksir dia. Yang ngantri aja udah banyak, yah pokoknya saingannya segudang, apalagi buat kamu, anak kecil!!!” Ledeknya sambil menarik rambutku dan langsung lari meninggalkanku.

Sial, mentang-mentang cantik!!!!! Aku mengerutu dalam hati. Tapi memang kakakku itu sangat cantik, sudah putih, tinggi, rambut panjang, pinter lagi! Banyak sekali cowok-cowok yang datang ke rumah untuk ketemu dia, sampe ada yang bawa-bawa bunga segala, apalagi yang menelepon, pokoknya nggak keitung!!! Sedangkan aku? Palingan cowok yang telepon cuma mau nanyain PR, itupun jarang. Apalagi yang datang ke rumah, mana ada!!!  Ah, sudahlah! Ngapain sih mikirin begituan, apalagi mikirin Tommy, mendingan aku balik aja ke kelas, siapa tau bisa dapet temen baru dan bisa ngelupain Tommy.

Tapi ternyata hampir semua cewek di kelasku sedang membicarakan sang idola itu, huh! Kalau begini sih bukannya lupa malah bisa-bisa keinget terus sampai kebawa mimpi. Masak sih dari sekian banyak cowok cakep di sekolah ini tapi cuma si Tommy aja yang diomongin? Bosan!!

***

Bel pulang sekolah berbunyi dengan sangat keras, yah lumayanlah buat ngebangunin anak-anak yang lagi terkantuk-kantuk di kelas mendengarkan pelajaran. Loh, tapi ini kan baru jam sebelas, kok sudah bel? Apa karena ada rapat guru makanya kita-kita dipulangin lebih awal? Waduh Gawat! Kalau pulang cepet begini biasanya kakakku pasti ngelayap entah ke mana sama temen-temennya, mana mau dia pulang bareng aku?! Kalau begini sih alamat aku harus telepon ke rumah minta jemput sama abangku, maklumlah abangku itu sekarang kesibukannya cuma bikin skripsi, jadinya bisa aku manfaatin buat jadi supir pribadi hi…hi…hi…Sebenarnya sih aku nggak masalah kalo nggak dijemput, cuma aku paling takut sama yang namanya nyebrang jalan, abisan dulu aku pernah di tabrak vespa sih waktu lagi nyebrang jalan, jadi trauma deh!!

Aku pun bergegas mencari telepon umum…Telepon umum? Yah maklumlah di sekolahku ini dilarang bawa HP, soalnya guru-guru takut kalau bunyi HP akan mengganggu pelajaran.

Waduh, tapi kok banyak banget yang lagi ngantri di telepon umum? Kalo begini sih mendingan peraturan larangan bawa HP direvisi lagi dari pada kita harus ngantri-ngantri segala kayak gini! Omelku dalam hati sambil ikut mengantri entah di urutan keberapa.

Fiuuuhh…Akhirnya tiba juga giliranku. Namun baru saja aku mau meraih gagang telepon tiba-tiba cowok tinggi itu menyerobotku.

“Ma’af mbak, penting.” Ujarnya sambil menggeserku.

Enak aja! Memangnya siapa dia? Pake panggil mbak segala lagi!

“Heh, lo tau budaya ngantri nggak sih?” bentakku sambil meraih gagang telepon. Tapi sialnya cowok itu juga meraih gagang telepon itu sehingga kami mulai tarik-tarikan. Kalau saja gagang telepon itu hidup dia pasti sudah menjerit kesakitan.

“Eh, pelit amat sih lo, gue cuma mau pake sebentar kok!” Ujarnya masih sambil menarik gagang telepon itu.

“Nggak bisa, kan gue yang duluan tadi!” Balasku tak kalah kuat menarik gagang telepon itu.

Setelah sekian lama saling tarik-menarik habis sudah kesabaranku, langsung saja aku injak kakinya sekuat tenaga.

“ADUHHH…Sakit dong!!!” Teriaknya sambil memegang ujung sepatunya.

Melihat dia melepaskan gagang telepon langsung saja aku buru-buru memasukkan kartu telepon dan menekan nomer telepon rumahku. Huh biar tau rasa dia, ejekku dalam hati. Setelah selesai menelepon tanpa basa-basi aku langsung meninggalkan tempat itu, aku hanya mendengar cowok pirang itu menggerutu, “Kecil-kecil galak amat!” Huh, peduli amat, pikirku.

***

Sudah satu minggu berlalu dan si jangkung itu benar-benar sudah menjadi idola di sini, banyak sekali yang naksir dia, termasuk teman-temanku yang sudah mulai kukenal dekat. Kalau saja mereka tahu aku pernah menginjak kaki idola mereka bisa-bisa aku diinterogasi seharian.

“Hei Viny, kita ke kantin yuk!” Ujar Nina salah satu temanku.

“Oke.” Balasku sambil berlari mengejar Nina dan teman-temanku yang lain. Dan seperti biasa, selama perjalanan ke kantin teman-temanku terus saja membicarakan si jangkung tukang serobot itu, kalau saja ada selotip mungkin sudah kutempelkan ke mulut mereka masing-masing.

Sampai di kantin tiba-tiba saja Nina berbisik, “Eh Girls, itu Tommy sama temen-temennya lagi jalan ke arah sini!”

Langsung saja semua teman-temanku memasang senyum termanis mereka, sedangkan aku hanya membuang muka.

Namun ketika rombongan kita berpapasan, tiba-tiba saja Tommy berhenti dan berteriak, “Eh, ini dia nih, cewek yang waktu itu nginjek kaki gue!!!”

Ups…Ternyata Tommy masih inget dengan injakanku waktu itu, akupun bersiap-siap lari, takut kalau-kalau Tommy balas menginjak kakiku. Tapi entah kenapa sepertinya kakiku tertancap di tanah. Semua temanku bengong melihat kejadian ini.

Melihat aku diam saja Tommy pun mulai melanjutkan ucapannya, “Gila ni cewek, berani banget nginjek kaki gue.”

“Hah, masak sih, Tommy?” Tanya salah seorang temannya.

“Iya, kaki gue sampe biru diinjek sama dia! Kuat banget ni cewek tenaganya! Heh, dikasih makan apa sih lo di rumah, sampe kuat begitu?” Ejeknya diikuti tawa teman-temannya.

Berhubung dia adalah kakak kelasku, aku pun tidak berani membalas perkataannya, dan hanya menahan marah sambil mengepalkan tanganku.

“Atau jangan-jangan nyokap lo petinju ya, makanya lo bisa kuat kayak….”

Mendengar ia mulai membawa-bawa ibuku habis sudah semua kesabaranku, langsung saja kutinju pipi kanannya yang putih sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

Semua temanku dan juga teman-teman Tommy kaget melihat aksiku itu, Nina malah berteriak. Sama dengan mereka akupun juga ikut kaget melihat aksiku sendiri, akhirnya keluar juga jurus Taekwondo yang belum pernah sempat aku praktekkan itu. Pasti tinjuku itu keras sekali karena Tommy hampir saja terpelanting, untung salah satu temannya sempat menahannya. Saat itu juga aku langsung lari meninggalkan mereka, kalau tidak bisa-bisa aku dikeroyok sama teman-teman Tommy yang besar-besar itu.

Benar juga dugaanku, setelah peristiwa tadi siang banyak cewek yang memandangku dengan sinis, teman-temanku bahkan tidak ada yang mau berbicara denganku, mungkin mereka mengira aksiku tadi hanya untuk mencari sensasi atau untuk menarik perhatian Tommy, padahalkan itu semua murni untuk membela diri!

Pertama-tamanya sih aku cuek saja jika memang tidak ada temanku yang mau bicara denganku, sampai aku sadar kalau aku harus pulang sendiri karena teman-temanku nyuekin aku, sedangkan kak Wanda pergi entah ke mana. Waduh mana abangku sudah wanti-wanti kalo minggu ini dia nggak mau diganggu gara-gara mau sidang skripsi. ‘Jangan bikin gue dapet nilai B ya!’, teriak abangku setiap kali aku minta dianterin.

Oh…Ow…Kalau begini sih berarti aku benar-benar harus pulang sendirian, dan pulang sendiri sama saja dengan nyebrang jalan sendiri. Mungkin saja aku bisa merobohkan Tommy hanya dengan sekali pukul, tapi untuk urusan sebrang menyebrang jalan tunggu dulu deh! Tapi apa boleh buat, masak aku nggak pulang ke rumah gara-gara takut menyebrang sih?

Sudah hampir 30 menit aku berdiri di pinggir jalan, tapi aku masih takut untuk menyebrang, aku hanya sesekali maju tapi mundur kembali setiap ada mobil atau motor yang mau lewat, seperti orang bodoh saja. Huh, ini gara-gara si jangkung jelek itu, gara-gara dia temenku nggak ada yang mau nemenin aku pulang! Gerutuku dalam hati.

Belum hilang pikiranku tentang Tommy, namun tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dan membantuku menyebrang jalan. Kaget sekali ketika aku tahu bahwa Tommy yang sedang menarik tanganku,”Eh, mau ngapain lo?” Tanyaku bingung, namun Tommy hanya diam saja sambil sesekali mengangkat tangannya untuk menghentikan mobil.

Sampai di seberang dia langsung melepaskan tanganku, “Kalau nggak bisa nyebrang jangan pulang sendirian.” Ujarnya.

Belum sempat aku mengerti apa yang terjadi Tommy sudah menyebrang kembali meninggalkanku.

***

Sampai di rumah aku terus memikirkan Tommy, kok bisa-bisanya dia mau nolongin aku? Padahal sudah dua kali dia terkena jurus mautku. Apa dia cuma mau buat aku bingung seperti sekarang ini, atau dia…Lok kok aku jadi mikirin Tommy terus sih? Aku kan benci banget sama dia. Aku jadi inget sama perkataan kakakku, katanya kalau kita membenci seseorang suatu saat nanti kita bisa suka sama orang itu. Tapi aku sama sekali tidak setuju dengan perkataan kakakku itu, maksudku kalau sudah benci ya benci saja, kenapa jadi suka segala! Tapi sepertinya aku tetap harus berterima kasih sama Tommy, begini-begini aku ini orang yang tahu berterima kasih loh.

***

Keesokan harinya aku bertekad untuk menyatakan rasa terima kasihku ke Tommy di waktu istirahat. Saat itu Tommy sedang duduk sendirian di pojok kantin sambil menikmati bakso pesanannya. Fiuhh untung dia lagi sendirian, tengsin juga aku kalau harus berterima kasih di depan teman-temannya, bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan mereka. Tanpa ragu langsung saja aku mendatangi Tommy.

“Terima kasih yang kemarin…” Ujarku dengan suara sesopan mungkin. Tapi Tommy diam saja tanpa menoleh sedikitpun. Sialan ni orang, budek apa?! Omelku dalam hati. Tapi…O..Ow…Sepertinya Tommy masih marah padaku ketika sekilas aku melihat pipi kanannya masih biru karena tinjuku. “Sorry…Pipi lo…Masih sakit ya? Apa kita perlu ke dokter?…Kalau pipi lo masih sakit… Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku tiba-tiba saja Tommy tertawa terbahak-bahak sampai membuatku terloncat.

“Ha…Ha…Ha…Kena lo gue kerjain!”

“Eh, elo nggak marah?” Tanyaku.

“Marah?” Ia balik bertanya. “Ngapain gue marah? Gue malah salut ada cewek yang berani nonjok gue, baru kali ini gue ditonjok sama cewek sampe biru begini!” Ujarnya sambil memegang pipinya.

“Ha…ha…” Aku hanya tertawa kecil.

“Oh iya, kenalin gue Tommy.” Ujarnya sambil menjulurkan tangannya.

Sudah tau kataku, dalam hati tentunya. “Gue Viny.” Ujarku sambil membalasan uluran tangannya.

“Nah Viny, sekarang kita udah saling kenal kan? Terus gimana kalau malam ini kita nonton berdua?” Ujarnya.

“Nonton gimana maksud lo?” Tanyaku bingung.

“Iya, nonton, N O N T O N.” Ejanya. “Tenang gue yang bayarin kok.”

Wah jangan-jangan dia bohong, pikirku. “Elo nggak lagi bohongin gue kan? Kita kan baru kenal.”

“Yah enggak lah, masak lo nggak percaya gue sih? Makanya karena kita baru kenal kita nonton berdua supaya kita lebih kenal lagi satu sama lain, oke? Kalau gitu nanti malam gue tunggu ya di bioskop jam tujuh, dateng yaaa!!” Ujar Tommy sambil meneguk minumannya dan pergi meninggalkanku yang masih terbengong-bengong.

Cowok terkeren di sekolah ini ngajak aku nonton berdua? Aku? Yang nggak ada apa-apanya ini? Aku nggak percaya, aku benar-benar nggak percaya!

***

Aku benar-benar nggak percaya, sampai sampai aku percaya bahwa si Jangkung itu telah ngerjain aku. Sudah dua jam aku menunggu di bioskop ini, sendirian. Aku tersenyum kecut, ternyata aku dibohongin, Tommy nggak bakal datang karena dia saat ini pasti sedang mentertawakan kebodohanku di rumahnya dengan puas. Si jangkung itu ternyata telah memilih cara paling jitu untuk membalas tinjuku. Oke, kataku dalam hati, ternyata dia benar-benar mau cari masalah denganku. Akupun buru-buru pulang, pikiranku sudah penuh dengan seribu macam siasat untuk membalasnya. Tunggu saja, aku sudah tidak sabar untuk membuat warna biru lagi di pipinya yang putih itu, kali ini pipi kirinya yang akan menjadi sasaran jurus mautku!

– The End –

Written by: chasingtheturtle

This is the first short story that I made when I was in high school^^

Picture Credit: doksongfineart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s